Kamis, 13 Desember 2007

Dai Sebagai Pengolah Informasi

Dai Sebagai Pengolah Informasi dalam Keberhasilan Berdakwah dan Hubungan Organisasi/Perusahaan terhadap SIM-D

Pendahuluan
Dunia masa depan adalah dunia informasi, maju tidaknya suatu negara ditentukan oleh penguasaan bangsa atau negara atas informasi yang kian kompleks dan canggih. Dengan kta lain, bangsa Indonesia pun hanya akan berkembang maju kalau mampu menguasai informasi. Kalau informasi itu belum kita miliki, kita harus berupaya mendapatkannya dengan cara apapun.
Sebagai orientasi baru dalam dunia ilmu pengetahuan, SIM masih merupakan ilmu yang masih sangat baru. Sifat suatu organisasi dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan mungkin sekarang dapat didukung dengan sistem informasi manajemen, apalagi organisasi dakwah sekarang dapat:
Mengumpulkan informasi
Mengklasifikasikan informasi
Mengolah informasi
Menginterpretasikan informasi
Mengambil informasi kembali dari tempat penyimpanannya
Transmisi (penyampaian)
Penggunaan informasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Dai sebagai pengolah informasi
Sistem informasi manajemen dakwah adalah sistem manusia/mesin, perancangan SIM-D cenderung mengikat erat pengambilan keputusan pada sistem pengolah mesin, dan fungsi kerja administrasi dilaksanakan secara tertentu berdasarkan persyaratan komputer. Karena itu manusia adalah elemen penting dalam sistem pengolah informasi. Dai sebagai pengolah informasi terdiri dari masukan melalui indera, sebuah unit pengolah, dan tanggapan keluaran jadi dengan kata lain perlu manajemen yang baik untuk mengolah sebuah informasi untuk keberhasilan dakwah.
Sebuah model dasar sederhana mengenai manusia sebagai pengolah informasi terdiri dari indera penerima (mata, telinga, hidung, dsb) yang menerima isyarat dan meneruskannya kepada unit pengolah (otak dengan penyimpanan). Hasil olahan adalah respons/tanggapan keluaran (secara fisik, ucapan, tulisan, dsb).
ingatan
Pengolahan mental
Hasil keluaran
saluran
Saluran
Masukan dari indera penerima


Penyaring

Bagan: Model manusia sebagai pengolah informasi

Pada dasarnya dai dapat membahas sistem informasi manajemen tanpa komputer, tetapi adalah kemampuan komputer yang membuat SIM terwujud guna kesuksesan dakwah, persoalannya bukan dipakai atau tidaknya komputer dalam sebuah sistem informasi manajemen, tetapi sejauh mana berbagai proses akan dikomputerkan, sebagian tugas sebaiknya dilaksanakan oleh manusia dan lainnya lebih baikh dilakukan oleh mesin.

Hubungan Organisasi/perusahaan terhadap SIM-D
Ketika seseorang bekerja dalam organisasi atau instansi perusahaan akan ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama adalah adanya tugas-tugas dan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Kedua adalah proses yang terjadi didalam organisasi itu sendiri, misalnya bagaimana mekanisme kerja atau main sebuah organisasi sebagai suatu unit kerja, proses interaksinya dll. Dengan kata lain SIM-D menunjuk pada proses kerjasama, koordinasi, prosedur yang harus dilakukan dan disepakati seluruh anggota dan hal-hal lain yang berguna untuk menjaga keharmonisan hubungan antar individu dalam sebuah organisasi dakwah itu.
Tanpa memperhatikan proses, maka sebuah organisasi tidak akan memiliki nilai apa-apa dan hanya akan menjadi sumber masalah dalam pembentukan sebuah team work. Sebaliknya jika proses tersebut ada dalam sekumpulan orang yang bekerjasama , maka performance mereka akan meningkat karena akan mendapat dukungan secara teknis maupun moral. Organisasi merupakan sarana yang baik dalam menggabungkan berbagai talenta dan dapat memberikan solusi inovatif suatu pendekatan yang mapan. Selain itu keterampilan dan pengetahuan yang beranekaragam yang dimiliki oleh anggota juga merupakan nilai tambah yang membuat teamwork lebih menguntungkan jika dai hanya berdakwah seorang diri kendati dai tersebut brilian sekalipun.
Informasi adalah komoditas yang digunakan dalam individu kelompok kerja, departemen, organisasi secara keseluruhan. Semua anggota organisasi mungkin memerlukan informasi. Pada era globalisasi sekarang ini perkembangan dan kemajuan teknologi berjalan dengan sangat cepat. Karena hal itulah membuat informasi sangat penting dan berharga dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan harga sebuah informasi menjadi sangat mahal di jaman sekarang ini. Maka dibutuhkan akses informasi yang cepat pula agar kita tidak tertinggal informasi. Oleh karena itu dalam bindang dakwah juga telah dikembangkan sistem informasi diberbagai bidang agar dapat lebih mudah, cepat, efisien dan tepat dalam mendapatkan informasi.
Arti SIM bagi dakwah seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program dakwah. Namun pemanfaatan SIM ini di indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan SIM untuk dakwah. Seperti internet yang bisa dihubungi setiap saat, artinya dakwah dapat dilaksanakan melalui program-program yang ada pada jaringan internet kapan saja sehingga kendala ruang dan waktu dapat teratasi. Kendati tetap ada sudut-sudut masyarakat yang membutuhkan tatap muka langsung dengan penda’i namun dengan perkembangan pesat dibidang teknologi telekomunikasi, multimedia, dan informasi, mendengarkan ceramah, mencata di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman.
Ditinjau dari segi informasi, struktur organisasi dapat disoroti dari dua segi, yaitu;
struktur organisasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan program-program kerja rutin.
struktur organisasi yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi baik sebagai keseluruhan maupun secara personil, departemental atau pun cross departemental.
Konsekwensi pengelompokkan yang demikian terlihat pula dalam dua pola hubungan didalam kedua macam organisasi tersebut antara para pelaksana dengan pimpinan organisasi. Ialah hubungan pimpinan organisasi dengan unit-unit yang mengatur program-program rutin dakwah ialah hubungan formil dan melembaga. Dan untuk memecahkan masalah-masalah organisasi diperlukan kreatif yang luwes fleksibel meskipun tradisi, kebiasaan, norma-norma sosial tidak boleh dialpakan.

Daftar Pustaka

Jaya Putra, Syopiansyah. DR. M.Sis. dan Subiyakto, A’ang. S.Kom. Pengantar Sistem Informasi. Uin Jakarta Pers. 2006

Davis, Gordon B. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen Bagian I. PT. Pusaka Binaman Pressindo. Jakarta. 1984

Siagian, Sondang P. M.P.A. Ph.D. Sistim Informasi Untuk Pengambilan Keputusan. Gunung Agung. Jakarta. 1974

Davis, Gordon B. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen Bagian II. PT. Pusaka Binaman Pressindo. Jakarta. 1998

Mengidentifikasi Segmen Pasar dan Memilih Pasar Sasaran

1. Segmentasi Pasar
a. Pendekatan untuk melakukan segmentasi
Dengan melaksanakan segmentasi pasar, kegiatan pemasaran dapat dilakukan lebih terarah dan sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien dalam rangka memberikan kepuasan bagi konsumen. Ada empat ktiteria yang harus dipenuhi segmen pasar agar proses segmentasi pasar dapat dijalankan dengan efektif dan bermanfaat bagi perusahaan, yaitu:
Terukur (Measurable), artinya segmen pasar tesebut dapat diukur, baik besarnya, maupun luasnya serta daya beli segmen pasar tersebut.
Terjangkau (Accessible), artinya segmen pasar tersebut dapat dicapai sehingga dapat dilayani secara efektif.
Cukup luas (Substantial), sehingga dapat menguntungkan bila dilayani.
Dapat dilaksanakan (Actjonable), sehingga semua program yang telah disusun untuk menarik dan melayani segmen pasar itu dapat efektif.

b. Pasar, Segmen pasar dan Ceruk Pasar
Pasar adalah suatu tempat yanhg didalamnya terdapat kekuatan permintaan dan penawaran yang saling bertemu untuk menemukan harga atau Pasar adalah tempat dimana pembeli dan penjual bertemu dan berfungsi, barang dan jasa tersedia untuk dijual dan terjadi perpindahan hak milik.
Segmentasi Pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk kedalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat homogen. Berdasarkan definisi diatas diketahui bahwa pasar suatu produk tidaklah homogen, akan tetapi pada kenyataannya adalah heterogen. Pada dasarnya segmentasi pasar adalah suatu strategi yang didasarkan pada falsafah manajemen pemasaran yang orientasinya adalah konsumen. Ceruk pasar adalah pangsa pasar dalam arti untuk siapa produk akan kita arahkan atau sederhananya ceruk pasar ialah relung atau celah pasar yang belum tergarap dengan baik.

c. Pola Segmentasi Pasar
1. Preferensi homogen : preferensi yang sama terhadap produk
2.Preferensi tersebar :pilihan terpencar keseluruh penjuru, produk ditempatkan terpencar.
3. Preferensi mengelompok : mengelompokkan selera atau pilihan yang tegas.

d. Prosedur Segmentasi Pasar[1]
1. Undifferentiated Marketing : perusahaan meninjau pasar secara keseluruhan dan memusatkan kesamaan kebutuhan konsumen dengan mengembangkan produk tunggal untuk memenuhi keinginan banyak orang.
2. Differentiated Marketing : perusahaan mengidentifikasikan kelompok-kelompok pembeli tertentu dengan membagi pasar ke dalam dua kelompok atau lebih, selain itu perusahaan membuat produk dan program pemasaran yang berbeda-beda untuk setiap segmen.
3. Concentrated Marketing : perusahaan memusatkan usaha pemasarannya pada satu atau beberapa kelompok pembeli saja.

e. Dasar-dasar untuk Segmentasi Pasar Konsumen
a. Segmentasi atas dasar Geografis, Segmentasi pasar ini dilakukan dengan cara membagi pasar kedalam unit-unit geografis seperti negara, propinsi, kabupaten. kota, desa, dan lain sebagainya. Dalam hal ini perusahaan akan beroperasi disemua segmen, akan tetapi, harus memperhatikan perbedaan kebutuhan dan selera yang ada dimasing-masing daerah.
b. Segmentasi atas dasar Demografis, Segmentasi pasar ini dapat dilakukan dengan cara memisahkan pasar kedalam kelompok-kelompok yang didasarkan pada variabel-variabel demografis, seperti umur, jenis kelamin, besarnya keluarga, pendapatan, agama, pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain.
c. Segmentasi atas dasar psychografis, Segmentasi pasar ini dilakukan dengan cara membagi-bagi konsumen kedalam kelompok-kelompok yang berlainan menurut kelas sosial, gaya hidup, berbagai ciri kepribadian, motif pembelian, dan lain-lain.
f. Dasar untuk Mensegmentasi pasar bisnis
1. Siapa yang berada dalam pasar bisnis
2. Apa yang dibeli dalam pasar bisnis
3. Bilamana produsen membelinya
4. Siapa yang turut serta dalam mengambil keputusan pembelian barang-barang industri/pebisnis

2. Mengembangkan Gambaran Segmen Pelanggan
Sebab - Sebab Segmentasi Pasar :
1. Kebutuhan yang berbeda
2. Pola pembelian yang berbeda
3. Tanggapan yang berbeda terhadap penawaran
Manfaat Segmentasi Pasar :
1. Menyalurkan barang ke pasar potensial yang paling menguntungkan
2. Merencanakan produk yang memenuhi permintaan pasar
3. Menentukan cara-cara promosi yang paling efektif
4. Mengatur waktu yang sebaik-baiknya dalam usaha promosi
Persyaratan Segmentasi Pasar :
1. Dapat diukur
2. Dapat dicapai
3. Dapat dilaksanakan

3. Penetapan Sasaran Pasar
Mengevaluasi Segmen Pasar
Adalah merupakan kegiatan yang berisi dan menilai serta memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan. Apabila perusahaan ingin menentukan segmen pasar mana yang akan dimasukinya, maka langkah yang pertama adalah menghitung dan menilai profit dari berbagai segmen yang ada tadi. Maka dalam hal ini pemasar harus mengerti betul tentang teknik-teknik dalam mengukur potensi pasar dan meramalkan permintaan pada masa yang akan datang.
Memilih Segmen Pasar
Untuk tujuan tersebut perusahaan harus membagi-bagi pasar menjadi segmen-segmen pasar utama, setiap segmen pasar kemudian dievaluasi, dipilih dan diterapkan segmen tertentu sebagai sasaran. Dalam kenyataannya perusahaan dapat mengikuti salah satu diantara lima strategi peliputan pasar, yaitu:
1. Konsentrasi pasar tunggal, ialah sebuah perusahaan dapat memusatkan kegiatannya dalam satu bagian daripada pasar.
2. Spesialisasi produk, sebuah perusahaan memutuskan untuk memproduksi satu jenis produk.
3. Spesialisasi pasar, misalnya sebuah perusahaan memutuskan untuk membuat segala macam mesin tik, tetapi diarahkan untuk kelompok pelanggan yang kecil.
4. Spesialisasi selektif, sebuah perusahaan bergerak dalam berbagai kegiatan usaha yang tidak ada hubungan dengan yang lainnya, kecuali bahwa setiap kegiatan usaha itu mengandung peluang yang menarik.
5. Peliputan keseluruhan, yang lazim dilaksanakan oleh industri yang lebih besar untuk mengungguli pasar. Mereka menyediakan sebuah produk untuk setiap orang, sesuai dengan daya beli masing-masing.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa sudah layaknyalah perusahaan memiliki segmentasi pasar sendiri sebelum mereka menjalankan ataupun memasarkan produk/jasanya. Segmentasi pasar yang dibuat hendaknya haruslah mempertimbangkan situasi dan keadaan perusahaan baik keadaan intern perusahaan itu sendiri atau lingkungan mikro perusahaan, maupun keadaan ekstern perusahaan atau yang dikenal dengan lingkungan makro perusahaan. Perusahaan yang berjaya dan mampu mempertahankan serta meningkatkan lagi penjulannya ditengah-tengah pesaingnya adalah perusahaan yang telah berhasil menetapkan segmentasi pasar serta strategi bersaingnya dengan tepat.
[1] Stanton, William, J, Prinsip Pemasaran, Erlangga, 1986

Cara Cepet Menyusun Skripsi

Cara Cepet Menyusun Skripsi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”. Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain. Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya. Apa itu Skripsi Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3). Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum “berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal. Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus). Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”. Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat. Miskonsepsi tentang Skripsi Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata. Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory. Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain. Hal-hal yang Perlu Dilakukan Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun. Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi. Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai. Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest. Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya. Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu. Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda. Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan? Tahap-tahap Persiapan Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing. Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal. Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas. Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya. Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980. Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

Kiat Memilih Dosen Pembimbing Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi. Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda. Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat? Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus. Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut: Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis. Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat. Tapi, keuntungannya: Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda. Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda. Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A. Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya. Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda. Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing. Format Skripsi yang Benar Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut. Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini. Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung. Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya. Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan. Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini. Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda). Beberapa Kesalahan Pemula Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami. Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1. Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses) Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan. Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan. Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu. Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor. Menghadapi Ujian Skripsi Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi. Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam. Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis. Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well. Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji. Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu. Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A. Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa. Pasca Ujian Skripsi Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan. Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya? Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini. Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan. Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?

Selasa, 11 Desember 2007

Artefak

Fosil Bahtera Nuh

Dan buatlah bahtera itu dengan pangawasan dan petunjuk wahyu Kami. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya orang-orang itu akan ditenggelamkan (Surat Hud ayat 37)

Posisi fosil formasi kapal pada ketinggian 15.500 kaki di puncak Gunung Ararat hasil pendeteksian geo radar. Dibawah ruangan formasi itu ada ruangan, yang diduga adalah kamar-kamar Foto "benda asing" yang terlihat dipuncak Gunung Ararat, hasil pemotretan udara pada tahun 1959 oleh NATO.
Untuk menemukan Perahu Nabi Nuh AS, sebenarnya sudah dilakukan orang selama berabad-abad. Menurut catatan, sebelum Nabi Muhamad SAW lahir pun, sudah ada orang yang ingin menemukan kapal yang penuh misteri itu sesuai dengan petunjuk "Injil" kitab suci orang Kristen. Konon Epiphanius, seorang Bishop (uskup) dari Salames pernah mencari perahu itu dan melihat peninggalan Nabi Noah (Nuh AS), masih terdampar di Gunung Guardian yang tertutup salju sangat tebal.
Kemudian pada abad XII juga disebutkan, upaya pencarian kapal ini pernah dilakukan pula oleh Benyamin Tudela, seorang pendeta bangsaYunani. Ia mengatakan, bahwa pendahulunya Omar bin al Khatab, seorang petinggi dari Turki, telah mengambil bagian dari kapal itu untuk dijadikan bahan bangunan masjid.
Perdebatan demi perdebatan, mulai muncul di kalangan para ahli sejarah dan agama, tentang di mana tempat sebenarnya kapal Nabi Nuh itu terdampar, karena terdapat perbedaan tempat, diantara kitab suci Bibel dan Quran. Di dalam kitab Bibel disebutkan, bahwa kapal Noah terdampar setelah sekian lama terombang ambing ombak dan gelombang pasang di Gunung Ararat.
Namun dalam Alquran disebutkan bahwa kapal itu terdampar di Bukit (gunung) Judi (daerah Armenia). Alquran Surat Hud ayat 44 berbunyi: Dan difirmankan: Hai Bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, danairpun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di bukit Judi. Dan dikatakan "binasalah orang-orang zalim”.
Dari hasil penelitian para ahli, ternyata Gunung Ararat sekarang, telah berganti nama beberapa kali. Pernah bernama Gunung Guardian, dan juga bernama Armenia atau Gunung Judi. Akhirnya setelah melalui penelitian panjang, dengan berdasarkan bukti-bukti sejarah kuno para ahli sejarah dan agama sepakat, bahwa gunung tempat terdamparnya kapal Nabi Nuh itu bernama Gunung Ararat (Injil) atau Gunung Judi (Quran), yang sebenarnya kendati nama yang berbeda tempatnya itu-itu juga.
Setelah sekian lama tidak terdengar lagi, upaya pencarian kapal Nabi Nuh muncul kembali pada abad XIX. James Brice, seorang ahli archeology dari Oxford University, pada tahun 1876 dengan biaya dari Yayasannya mengarungi lautan salju di Gunung Ararat Perbatasan Turky mencari kapal misterius itu kembali. Dalam perjalanan ke puncak Ararat, James Brice dari Inggris, menyatakan menemukan empat buah batu panjang berbentuk tongkat. Ia menduga "batu tongkat itu" merupakan bagian dari tiang layar kapal yang dalam pejalanan waktu puluhan ribu tahun sudah memfosil.
Menjelang akhir abad XIX, yaitu tepatnya tahun 1892, Yoseph Nouri dari Prancis mengulangi perjalanan yang dilakukan James Brice dari rute yang bebeda. Ia mengklaim, bahwa dirinya telah sampai ke tujuan dan berhasil menemukan perahu Nabi Nuh. Keberhasilannya itu karena kebetulan. Waktu itu sedang musim kemarau sangat panjang, sehingga tidak ada salju yang menutupi permukaan gunung. Bahkan ia menegaskan, sempat berjalan-jalan di tempat yang diduga dek kapal yang panjangnya 300 cubic, persis seperti yang diungkapkan dalam kitab Bibel.
Semua ungkapan dan pernyataan dari "para pemburu Kapal Nabi Nuh", hingga penghujung abad XIX hanyalah dilukiskan dalam kata-kata dan tulisan saja tanpa bisa divisualisasikan. Karena memang pada waktu itu, tidak ada teknologi fotografi yang mampu mendukung pernyataan mereka, sehingga semua orang yang mendengarnya, merasa penasaran. Apakah omongannya itu benar, atau hanya "bulshit" (bohong) saja.
Waktu terus berjalan. Gandrung mencari perahu Nabi Nuh, seperti hilang ditelan waktu. Hingga pada tahun 1959, Ilham Durupinan, seorang pilot Turky Airforce anggota pasukan NATO mengadakan pemotretan udara di Gunung Ararat perbatasan Irak, melihat dari rekaman hasil pemotretannya itu "benda asing" dekat puncak salah satu gunung tertinggi di Turky itu, pada ketinggian 15.500 kaki. Karena merasa penasaran, para petinggi NATO di basis Turky memerintahkan Dr. Arthur Brande, ahli fotografi dari Ohio University untuk memeriksa rekaman gambar pemotretan itu.
Setelah meneliti secara seksama, akhirnya disimpulkan bahwa "benda asing" di puncak Ararat itu adalah "perahu". Ya formasi perahu, yang diduga merupakan peninggalan Nabi Nuh, yang selama ini banyak dicari para ahli.
Kabar penemuan perahu Nabi Nuh ini, sempat ditayangkan oleh Majalah Life, Australian Fix Magazine dan American Life Magazine pada penerbitan tanggal 5 September tahun 1960. Pada tahun 1990, Ron Wyat bersama Dr. David Fasold, ahli geologi AS, membawa perlengkapan cangggih, di antaranya metal detector dan geo radar menjejak kembali koordinat tempat yang disinyalir ada formasi perahu Nuh. Selama empat tahun berturut-turut, ia melakukan penelitian secara detil dan seksama, baik di formasi perahu maupun daerah sekelilingnya, untuk mencari bukti-bukti peradaban setelah dunia itu musnah.
Dalam perjalanan kali ini, ia menemukan sebelas batu pipih berlubang, yang rata-rata berat antara empat hingga 10 ton. Batu-batu ini diindikasikan Wyat adalah, sebagai pemberat kapal agar tidak oleng oleh tiupan angin kencang. Sementara itu dari hasil pengamatan peralatan canggihnya, David Fasold, memperoleh indikasi bahwa batuan formasi perahu yang ditemukannya itu adalah kayu yang sudah berubah menjadi fosil.
Pada beberapa lokasi, juga terdapat konsentrasi logam, yang diduga merupakan pengikat balok. Hasil deteksi dari geo-radarnya, mengindikasikan bahwa di bawah fosil formasi perahu itu ada ruangan yang diduga adalah kamar-kamar. Namun formasi itu, hanya muncul sepertiganya. Diduga pada waktu itu, kemungkinan memang terdampar pada lumpur, sehingga sebagian dari badan kapal, hingga saat ini masih terbenam, yang sekarang setelah ribuan tahun semuanya telah berubah menjadi karang. Gene Collins, dari Departemen Ilmu Geologi AS, yang tidak percaya begitu saja kepada laporan David Fasold, pada penghujung tahun 2000 bersama satu tim yang terdiri dari 12 orang berbagai disiplin ilmu juga berangkat ke lokasi yang diduga merupakan tempat terdamparnya perahu raksasa Nabi Nuh.
Berangkat bersama tim itu, juga ahli Geologi Kelautan Dr. Robert Balard, yang telah sukses dalam menemukan bangkai Titanic, Istana Cleopatra, dan Benua yang hilang Atlantis. Menurut Collins, formasi fosil perahu itu diduga kuat adalah benar perahu Nabi Nuh AS. Karena dengan berbagai dalih apa pun, tidak mungkin ada benda asing yang diduga perahu yang sudah memfosil berada pada ketinggian 15.500 kaki tanpa sesuatu sebab. Fosil perahu yang ditemukan itu, merupakan nenek moyang perahu bangsa Sumeria.
Dari uji karbon di sekitar lokasi perahu, ternyata mengandung 4,95 % karbon dan pada beberapa lokasi terdapat kandungan besi yang cukup banyak dari segi tingginya kandungan karbon, hal ini berarti karbon itu berasal dari kayu yang sudah membatu. Padahal di lokasi lain, kandungan karbonnya hanya 1,88% saja yang biasa diperoleh dari kandungan tanah biasa. Harold Cofins, ahli geologi Tim yang juga bertindak sebagai juru bicara Tim mengungkapkan, bahwa perahu itu terbuat dari kayu species "Sigilata" yang telah diawetkan. Species kayu ini sejenis kayu raksasa, yang kini sudah punah dari muka bumi.
Menurut para ahli biologi kehutanan, kayu jenis ini memiliki keluarga sekitar 200 species, yang beberapa di antaranya masih hidup di Amerika Utara, Pategonia dan Australia. Tentang masalah banjirnya sendiri, Dr. Balard mengungkapkan bahwa dari bukti-bukti yang ada di ketinggian itu banjir besar pernah melanda bumi pada 10.000 tahun yang lalu, dan air sempat mencapai ketinggian lebih dari 15.000 kaki. Untuk mencapai posisi seperti saat ini hingga munculnya benua-benua dan pulau-pulau katanya memakan waktu hingga 7.500 tahun.


Arifsumber : The UnMuseum News

G-Spot


G-spot (atau titik Grafenberg) adalah daerah sebesar uang logam yang teramat sensitif dan terletak di bawah permukaan liang vagina yang menghadap ke arah depan tubuh. Meskipun lokasinya berbeda-beda, G-spot biasanya terletak di tengah antara tulang pinggul dan serviks, sekitar 4,5 sentimeter ke dalam vagina. Para peneliti telah menemukan bahwa pada beberapa wanita rasa sensitifnya lebih banyak sepanjang dinding vagina bagian atas, dan tidak hanya pada satu titik. Karena G-spot berada dibawah permukaan dinding vagina, maka harus dirangsang secara tidak langsung melalui dinding vagina. Banyak wanita dikabarkan merasa ingin mengeluarkan air seni ketika titik ini pertama kali dirangsang, namun ketika rangsangan dilanjutkan (dengan kantung kemih yang kosong), rasanya sangat nikmat. Beberapa dari mereka malahan mencapai orgasme, dan ada juga yang mengeluarkan cairan seiring dengan kontraksi orgasmik tadi. Namun keberadaan G-spot serta lokasinya, telah banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi. Grafenberg sendiri menunjuk daerah sensitif ini sebagai titik di mana uretra (saluran yang menyalurkan air seni dari kantung kemih) berada paling dekat dengan puncak dinding vagina. Perry dan Whipple bersikeras bahwa daerah ini terletak lebih tinggi lagi sepanjang vagina, sementara ahli seksologi lainnya berkata bahwa seluruh dinding luar vagina, dan bukannya hanya satu titik, berisi ujung-ujung syaraf yang mampu menghasilkan efek rangsangan hebat ketika dirangsang (stimulasi). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa untuk beberapa wanita, G-spot sama sekali tidak ada. Juga yang masih diperdebatkan adalah komposisi cairan (kadang disebut hasil ejakulasi wanita) yang dikeluarkan oleh beberapa wanita selama orgasme akibat rangsangan G-spot. Menurut beberapa peneliti cairan itu adalah urin; lainnya mengatakan bahwa itu adalah unsur yang mirip dengan cairan dalam air mani laki-laki (tanpa sperma, tentunya). Tidak semua wanita yang memiliki G-spot mengeluarkan cairan, dan dari beberapa wanita yang mengeluarkan, tidak selalu keluar bersama setiap orgasme G-spot. Menurut Dr. Ernest Grafenberg orgasme yang dihasilkan oleh titik G menimbulkan efek yang jauh lebih dahsyat ketimbang orgasme hasil stimulasi pada klitoris. Kalau pada orgasme biasa (klitoral) saja mampu membuat perempuan menggeliat-geliat dan hilang kesadaran, orgasme yang dihasilkan titik G jauh lebih dahsyat. Konon orgasme akibat terstimulasinya titik G membuat perasaan seperti "melayang ke awan atau terbang ke langit". Sangatlah sulit bagi seorang wanita untuk menjelajahi G-spot-nya dan orgasme vaginal sendiri karena kebanyakan tidak memiliki jari cukup panjang untuk mencapainya dan kesulitan untuk mencapai kenyamanan, lain halnya dengan orgasme biasa; wanita dapat melakukannya sendiri dengan melakukan masturbasi. Bekerja sama dengan pasangan yang dipercaya akan sangat nikmat dalam menemukan G-spot seorang wanita. Dengan bereksperimen, seorang wanita dapat menemukan jenis rangsangan yang dirasanya paling cocok. Rangsangan dengan penis biasanya lebih efektif bila dilakukan dengan tekanan yang tetap dan santai, bukan dengan sodokan penis yang biasa, karena G-spot biasanya perlu tekanan yang kuat dan di tempat yang sama. Menambah tekanan secara perlahan akan membantu menemukan tekanan yang optimum untuk kenikmatan erotis tanpa rasa sakit. Beberapa wanita mampu mencapai klimaks hanya dengan tekanan semacam ini; untuk beberapa lainnya mungkin akan sangat menaikkan tingkat rangsangannya. G-spot dapat dirangsang sebelum senggama berlangsung. Caranya, dengan merabanya. Pastikan untuk buang air kecil ketika Anda akan memulai eksplorasi tersebut, letak titik G berbeda untuk tiap wanita, biasanya terletak kira-kira 5 cm di lorong vagina pada dinding anterior (bagian atas ke arah perut). Lakukan eksplorasi dengan pasangan Anda dengan posisi tubuh terbaring dengan posisi pinggul agak terangkat (ditinggikan dengan bantal). Dalam posisi ini, pasangan Anda dapat memasukkan jarinya ke dalam vagina dan memulai eksplorasi secara "halus". Sebaiknya gunakan pelumas berbahan dasar air (KY atau Astroglide) sebelum memasukkan jari karena akan memberikan rasa agak sakit. Lalu, selama persetubuhan, titik ini juga akan dirangsang oleh ujung penis, saat pergerakan terjadi... Menurut para pakar seksologi, perempuan yang posisinya di atas-telungkup atau tidur-lebih mudah merasakan stimulasi pada titik G ketimbang posisi lainnya. Posisi doggy dan posisi wanita di atas adalah cara-cara efektif untuk menghasilkan rangsangan lebih langsung. Meskipun tidak semua ahli seks sependapat bahwa G-spot terdapat dalam tubuh seorang wanita, umumnya orang percaya bahwa itu ada dan bisa dirangsang sebagai unsur kenikmatan yang utama. Hal ini sering digolongkan sebagai urethral sponge (sebuah area lembut yang rata, kira-kira sepertiga jalan menuju dinding depan vagina dan terdapat tepat ketika wanita tengah terangsang). Dia berdenyut sedikit ketika disentuh dengan jari dan usapan pada area tersebut bisa menghasilkan sensasi dan perasaan seperti keluarnya orgasme. Berikut ini adalah beberapa fakta ilmiah yang berkaitan G-spot:
Bila dirangsang dengan tepat G-spot akan mengembang dan mengakibatkan orgasme pada kebanyakan wanita.
Pada saat orgasme, banyak wanita mengeluarkan suatu cairan melalui uretra yang secara kimiawi serupa dengan cairan yang dikeluarkan pria, namun tidak mengandung sel telur.
Sebagai akibat rangsangan G-spot, wanita memiliki serangkaian orgasme (berkali-kali).
Bagi kebanyakan wanita sulit dengan tepat merangsang G-spot dalam posisi telentang.
Pemakaian spiral akan mengganggu rangsangan G-spot pada sebagian wanita.
Karena percaya bahwa mereka kencing, kebanyakan wanita malu tentang ejakulasi. Dengan pikiran yang sama, pasangan mainnya seringkali meremehkannya, yang merupakan alasan mengapa banyak wanita berusaha mati-matian jangan sampai mereka orgasme.
Jika pria menaikkan tegangan otot-otot pubococcygeusnya (otot pc), mereka juga bisa belajar menjadi orang yang bisa mengalami orgasme ganda dan memisahkan orgasme dari ejakulasi.
Ada beberapa type wanita dan pria. Pada wanita, ada orgasme vulva yang dipicu oleh klitoris; ada orgasme uterin yang dipicu hubungan seksual dan gabungan keduanya. Pada pria, ada suatu orgasme yang dipicu oleh penis dan orgasme yang dipicu oleh prostat.

PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

BAB I
PENGERTIAN KARYA ILMIAH
PENDAHULUAN
Karya Ilmiah terbagi atas karangan ilmiah dan laporan ilmiah.
BATASAN
Karangan Ilmiah
Karangan ilmiah adalah salah satu jenis karangan yang berisi serangkaian hasil
pemikiran yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya. Suatu karangan dari hasil
penelitian, pengamatan, ataupun peninjauan dikatakan ilmiah jika memenuhi syarat
sebagai berikut :
1. penulisannya berdasarkan hasil penelitian;
2. pembahasan masalahnya objektif sesuai dengan fakta;
3. karangan itu mengandung masalah yang sedang dicarikan pemecahannya;
4. baik dalam penyajian maupun dalam pemecahan masalah digunakan metode
tertentu;
5. bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur, dan cermat;
6. bahasa yang digunakan hendaklah benar, jelas, ringkas, dan tepat sehingga tidak
terbuka kemungkinan bagi pembaca untuk salah tafsir.
Melihat persyaratan di atas, seorang penulis karangan ilmiah hendaklah memiliki
ketrampilan dan pengetahuan dalam bidang :
1. masalah yang diteliti,
2. metode penelitian,
3. teknik penulisan karangan ilmiah,
4. penguasaan bahasa yang baik.
Laporan ilmiah
Di samping istilah karangan ilmiah terdapat pula istilah laporan ilmiah. Apakah
kedua istilah ini sama maknanya ? Untuk jelasnya, lebih baik dikaji lebih dahulu apakah
laporan itu. Laporan ialah suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan,
atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan
dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu
karangan.. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil
penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan
ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas
masalah ilmu pengetahuan dan telnologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada
orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.
JENIS KARANGAN/LAPORAN ILMIAH
Karangan/laporan ilmiah dapat dibedakan berdasarkan tujuan penulisannya.
1. Kerta kerja
Kertas kerja ditulis untuk disampaikan kepada kelompok tertentu dalam suatu
pertemuan ilmiah, misalnya dalam seminar, simposium, lokakarya, konerensi atau
kongres. Di samping itu kertas kerja dapat juga ditulis untuk melengkapi tugas-tugas
pada mata kuliah tertentu.
2. Artikel
Artikel ditulis untuk pembaca tertentu, umpamanya untuk dimuat dalam majalah
ilmiah. Jika artikel ini ditujukan untuk orang awam, biasanya penyajiannya secara
populer dan dimuat pada surat kabar atau dalam majalah umum.
3. Skripsi, Tesis, dan Desertasi
Ketiga jenis karangan ilmiah ini ditulis untuk memperoleh pengakuan tingkat
kesarjanaan dalam suatu perguruan tinggi. Skripsi ditulis untuk memperoleh gelar
Sarjana, tesis untuk memperoleh gelar Master (S2), dan disertasi untuk memperoleh
gelar Doktor. Istilah skripsi sering disebut dengan istilah lain yaitu tugas akhir untuk
persyaratan memperoleh gelar Sarjana.
4. Laporan
Dalam dunia perusahaan dan instansi pemerintah, kegiatan menulis laporan
memegang peranan penting karena tindakan selanjutnya diambil berdasarkan laporan
yang diterima. Laporan itu ada yang ditulis dalam jangka waktu tertentu yang disebut
laporan periodek, dan ada juga yang ditulis berdasarkan kebutuhan dan permintaan.
Laporan ilmiah biasanya ditulis oleh staf ahli.
FUNGSI LAPORAN
Dalam perkembangan sistem masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, kedudukan penulisan laporan makin bertambah penting. Manfaat
laporan sangat dirasakan dalam sistem manajemen modern. Betapa besar manfaatnya
dapat dilihat dari fungsi laporan tersebut.
1. Laporan berfungsi untuk membantu penerima laporan mengambil keputusan
berdasarkan fakta dan gagasan yang dikemukakan penulisnya;
2. Di dalam suatu organisasi yang besar, seorang pemimpin dapat mengetahui dan
mengendalikan perkembangan yang terjadi pada seksi-seksi yang ada dalam
organisasinya dengan mempelajari laporan yang diterimanya;
3. Bagi seorang pemimpin, laporan dapat mempersingkat jarak dan waktu;
4. Laporan berfungsi juga sebagai penyimpanan ilmu pengetahuan, di samping
sebagai alat penyebarannya;
5. Laporan merupakan wahana yang sangat efektif bagi pemikiran yang kreatif;
6. Laporan dapat juga digunakan untuk menilai kemampuan dan ketrampilan
pembuat laopran.
PENULISAN KARYA ILMIAH
Penulisan karya ilmiah menggunakan bahasa ragam resmi, sederhana, dan lugas,
serta selalu dipakai untuk mengacu hal yang dibicarakan secara objektif.
Bahan dalam karangan disebut ilmiah apabila lafal, kosa kata, peristilahan, tata
kalimat, dan ejaan mengikuti bahasa yang telah ditetapkan sebagai pola atau acuan
bagi komunikasi, resmi, baik tertulis maupun lisan.
Kesulitan utama dalam pembakuan bahasa Indonesia ialah dalam bidang ejaan
dan peristilahan. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis harus mengacu pada
1. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
2. Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI).
Penulisan Kata
Mengenai penulisan kata, yang masih perlu kita pertahankan adalah sebagai
berikut.
1. Awalan di- dan ke- ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Benar Salah
dikelola di kelola
ketujuh ke tujuh
2. Gabungan kata yang salah satu unsurnya merupakan unsur terikat ditulis
serangkai.
Benar Salah
saptakrida sapta krida
sapta-krida
subseksi sub seksi
sub-seksi
nonkolaborasi non kolaborasi
non-kolaborasi
3. Bentuk dasar berupa gabungan kata yang mendapat awalan atau akhiran ditulis
dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur gabungan kata itu.
Benar Salah
bertolak belakang bertolakbelakang
bertolak-belakang
tanda tangani tandatangani
tanda-tangani
mendarah daging mendarahdaging
mendarah-daging
4. Bentuk dasar berupa gabungan kata yang sekaligus mendapat awalan dan akhiran
sekaligus ditulis serangkai.
Benar Salah
melatarbelakangi melatar belakangi
melatar-belakangi
menghancurleburkan menghancur leburkan
menghancur-leburkan
penyebarluasana penyebar luasan
penyebar-luasan
dibumihanguskan dibumi hanguskan
dibumi-hanguskan
5. Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, di antara
kedua unsur itu dibubuhkan tanda hubung (-)
Benar Salah
Non-Indonesia nonIndonesia
Non Indonesia
Non-Afrikanisme nonAfrikasnisme
Non Afrikanisme
6. Kata ulang dituliskan dengan menggunakan tanda hubung di antara kedua
unsurnya.
Benar Salah
anak-anak anak anak
undang-undang undang undang
terus-menerus terus menerus
7. Kata depan di atau ke ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
Benar Salah
di rumah dirumah
ke mana kemana
8. Kata sandang si ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
Benar Salah
si pengirim sipengirim
si penerima sipenerima
si pemalu sipemalu
si pencuri sipencuri
9. Partikel per yang berarti ‘tiap’ dan mulai ditulis terpisah dari bagian kalimat yang
mendahulu dan mengikutinya. Sebaliknya, per pada bilangan pecahan ditulis
serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Benar Salah
satu persatu turun satu per satu turun
dua pertiga dua per tiga
10. Singkatan nama gelar sarjana kesehatan, dokter, seringkali dipermasalahkan. Di
dalam lingkungan masyarakat muncul singkatan dr. untuk dokter (kesehatan) dan
DR untuk doktor (purnasarjana). Hal ini saja bertentangan dengan kaidah karena
singkatan Dr. diperuntukan bagi gelar Doktor, sedangkan DR seolah-olah
merupakan singkatan kata atau nama yang sama halnya dengan PT (perseroan
terbatas), SD (sekolah dasar).
11. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau
organisasi, nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf kapital, tidak diikuti
tanda titik.
Benar Salah
DPR D.P.R
PT P.T.
SMP S.M.P
SD S.D.
12. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Benar Salah
sda. s.d.a
ttd. t.t.d.
yad. y.a.d
13. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran timbangan, dan mata uang tidak diikuti
tanda titik.
Benar Salah
cm cm.
Rp Rp.
km km.
14. Akronim nama dari, yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan
suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kaiptal.
Benar Salah
Golkar GOLKAR
Kowani KOWANI
Bappenas BAPPENAS
Penulisan Kata Serapan
Bahasa Indonesia telah menyerap berbagai unsur dari bahasa lain, baik dari
bahasa daerah maupun dari bahasa asing misalnya bahasa Sansekerta, Arab, Portugis,
Belanda, Inggris dan bahasa asing lain.
Berdasarkan cara masuknya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dibagi
menjadi dua golongan, (1) unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa
Indonesia dan (2) unsur asing yang pengucapan dan pernulisannya disesuaikan dengan
kaidah bahasa Indonesia. Untuk keperluan itu telah diusahakan ejaan asing hanya diubah
seperlunya sehingga bentuk Indonesia masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Di dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicantumkan
aturan penyesuaian itu. Dapat ditambahkan bahwa dalam hal ini terutama dikenakan
kepada kata dan istilah yang baru masuk ke dalam bahasa Indonesia, serapan lama yang
sudah dianggap umum tidak selalu harus mengikuti aturan penyelesaian tadi.
Berikut ini contoh serapan itu.
Baku Tidak Baku
apotek apotik
arkeologi arkheologi
atlet atlit
akhlak ahlak
atmosfer atmosfir
akhir ahir, akir
aktif aktip
advis adpis
aktivitas aktipitas
advokat adpokat
arkais arkhais
adjektif ajktif
asas azas
konsekuensi konsekwensi
asasi azasi
kualifikasi kwalifikasi
analisis analisa
kualitas kwalitas
menganalisis menganalisa
kuarsa kwarsa
penganalisisan penganalisaan
kuitansi kwitansi
ambulans ambulan
kuorum kworum
anggota anggauta
kuota kwota
beranggotakan beranggautakan
konfrontasi konfrontir
balans balan
konsinyasi konsinyir
definisi difinisi
diskonsinyasi dikonsinyir
depot depo
koordinasi koordinir, kordinir
diferensial differensial
dikoordinasi dikoordinir
ekspor eksport
konduite kondite
aktrover ektrovert
kategori katagori
ekuivalen ekwivalen
dikategorikan dikatagorikan
esai esei
konsesi kosessi
formal formil
kelas klas
februari pebruari
klasifikasi kelasifikai
filologi philologi
linguistik lingguistik
fisik phisik
lazim lajim
foto photo
likuidasi likwidasi
frekuensi frekwensi
metode metoda
film filem
motif motip
hakikat hakekat
motivasi motifasi
hierarki hirarki
masyarakat masarakat
hipotesis hipotesa
mantra mantera
intensif intensip
manajemen mangemen
insaf insyaf
manajer manager
ikhlas ihlas
massa massa (orang banyak)
ikhtiar ihtiar
masalah masaalah
impor import
masal massal
introver introvert
misi missi
istri isteri
november nopember
iktikad itikad
nasihat nasehat
ijazah ijasah
penasihat penasehat
izin ijin
nasionalisasi nasinalisir
ilustrasi ilustrasi
dinasionalisasikan dinasionalasirkan
jenderal jendral
operasional operasianil
jadwal jadual
objek obyek
kartotek kartotik
ons on
komedi komidi
organisasi organisir
konkret konkrit
probelm problim
karier karir
problematik problimatik
kaidah kaedah
positif positip
khotbah khutbah
produktivitas produktifitas
berkhotbah berkhutbah
produktivitas produktifitas
konsepsional konsepsionil
psikis psikhis
konferensi konperensi
psikologi psikhologi
kreativitas kreatifitas
paspor pasport
kongres konggres
putra putera
kopleks komplek
putri puteri
katalisis katalisa
produksi produsir
kuantum kwantum
profesi professi
BAB II
PEMAKAIAN KALIMAT
PENGERTIAN KALIMAT
Orang berbahasa tidak menggunakan kata-kata secara lepas, tetapi dengan
merangkaikannya menjadi bentuk untaian kata yang mengungkapkan pikiran utuh.
Untaian kata yang menggungkapkan pikiran secara utuh itu disebut kalimat. Dalam
sebuah karangan tertulis surat, kalimat itu merupakan bagian terkecil sebagi unsur
pembentuknya. Paling tidak, kalimat itu merupakan titik tolak atau bagian awal sebuah
karangan. Agar kalimat dapat dipahami lebih jelas, perhatikan contoh petikan karangan
berikut ini.
Ujian telah lama berakhir. Bahkan, sudah diumumkan hasilnya. Fernando sudah
meraih tanda tamat belajar SMA jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial dengan nilai
baik sekali. Ia tidak berhasil menjadi jauara umum di sekolahnya, tetapi hanya
nomor tiga. Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang
gemilang, mengingat bahwa disamping belajar, ia harus melakukan kegiatan lain
yang tidak ringan, yaitu mengurusi pemasangan pompa sumur untuk para petani
di desanya.
Pada contoh di atas, kita dapat menemukan 5 buah kalimat yang membangun
bagian karangan itu, yaitu :
1. Ujian telah lama berakhir;
2. Bahkan, sudah diumumkan hasilnya;
3. Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan Ilmu Pengetahuan
Sosial dengan nilai baik sekali;
4. Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga;
5. Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat
bahwa di samping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan,
yaitu mengurusi pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya.
Kalimat sebagai unsur dasar pembentuk karangan dalam wujud tulisan mempunyai ciriciri
berikut.
a. Kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.) atau
mungkin juga dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!);
b. Di tengahnya dipakai spasi dan tanda baca seperti koma (,), titik dua ( : ), titik
koma (;), tanda hubung (-).
Contoh kalimat (1) sampai dengan (5) adalah kalimat yang utuh. Untuk
mengetahui keutuhan sebuah kalimat, kita dapat mengamati contoh kalimat (1) Ujian
telah lama berakhir, misalnya. Kata ujian dan berakhir dalam kalimat itu merupakan
kata-kata yang diperlukan. Jika salah satu di antaranya kita hilangkan sehingga kalimat
itu menjadi (a) Ujian talah lama atau (b) telah lama berakhir. Pernyataan (a) dan (b)
merupakan bentuk pengungkapan pikiran yang tidak utuh lagi. Dengan perkataan lain
bentuk pengungkapan pikiran itu merupakan kalimat yang tidak benar.
Kebenaran sebuah kalimat, selain ditentukan oleh keutuhan unsur-unsur pikiran,
ditentukan juga oleh,
a. Kelugasan penyusunannnya (tidak rancu);
b. Urutan kata-katanya;
c. Ketepatan pemakaian kata-kata penghubungnya atau perangkainya;
d. Kecermatan memilih kata-katanya;
e. Kebenaran menggunakan bentuk kata-katnaya.
Berikut ini dikemukakan beberapa kesalahan kalimat yang disebabkan oleh (1) penulisan
kalimat yang tidak utuh, (2) pemakaian bentuk kata yang rancu, (3) pemakaian
keterangan yang tidak lengkap, (4) urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa
Indonesia, (5) pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat, dan (6)
pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.
Penulisan Kalimat yang Tidak Utuh
Yang tergolong ke dalam jenis kesalahan seperti ini adalah kalimat yang
menghilangkan salah satu atau bebarapa bagian kalimat yang kehadirannya wajib atau
menentukan kelengkapan kalimat itu.
Contoh :
(1) Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi
bersama.
(2) Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap.
(3) Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur
Ketidakbenaran kalimat (1) adalah bahwa kalimat itu tidak menampilkan apa siapa yang
menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama. Bagian itu dalam kalimat (1)
dihilangkan sehingga pikiran yang diungkapkan kalimat tersebut menjadi tidak utuh lagi.
Dalam kalimat (2) kita tidak melihat bagian kalimat yang menyatakan perbuatan
apa atau dalam keadaan apa yang dilakukan atau dialami oleh kegagalan proyek itu
sehingga dengan hilangnya bagian itu, kalimat menjadi tidak utuh lagi, dalam kalimat (3)
ada beberapa bagian yang dihilangkan, yaitu bagian yang menyatakan siapa yang berbuat
dan jenis perbuatan apa yang dilakukan yang diterangkan oleh tenun ikat yang khas
Timor Timur itu.
Jadi kalimat (1), (2), dan (3) kita betulkan menjadi kalimat yang utuh, kalimatkalimat
itu kita ubah menjadi
(1a) Dalam musyawarah itu mereka menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi
bersama
(2a) Kegagalan proyek itu terjadi karena perancangan yang tidak mantap.
(3a) Tenun ikat yang dipakai oleh Raja Los Palos tergolong kedalam tenun ikat yang
khas, yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.
Kalimat (1) dapat juga kita betulkan dengan tidak menambah bagian lain ke
dalam kalimat, tetapi dengan mengubah bentuk menghasilkan menjadi dihasilkan.
Sehingga kalimat itu menjadi
(1b) Dalam musyawarah itu dihasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
atau dapat juga dibetulkan dengan cara menghilangkan kata dalam sehingga kalimat
menjadi
(1c) Musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
Penulisan Kalimat yang Rancu
Kesalahan kalimat seperti itu dimungkinkan karena penulis (pemakai bahasa)
mengacaukan dua macam pengungkapan kalimat atau lebih, misalnya :
(4) Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu didunia, tetapi harga
tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.
Yang dirancukan dalam kaliamt (4) itu adalah
(4a) Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, harga tekstil
untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi; dan
(4b) Negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil
untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.
Jadi kerancuan yang tampak pada kalimat (a) itu adalah pemakaian sekaligus kata
meskipun dan tetapi dalam sebuah kalimat. Kerancuan kalimat seperti di atas terdapat
juga pada kalimat yang berikut ini.
Latihan
Ubahlah kalimat berikut ini menjadi kalimat yang benar.
1. Bersama ini kami beritahukan, biodata para penceramah telah disiapkan dan kami
lampirkan bersama surat ini juga.
2. Pantai Pasir Putih adalah merupakan sebuah daerah wisata bahari yang terindah di
Timor Timur.
3. Kepada para karyawati yang berminat mengikuti kegiatan PKK kami persilahkan
mendaftarkan diri di kantornya masing-masing.
4. Daerah pertanian itu hanya menghasilkan padi sekali setahun karena disebabkan
oleh kemarau yang terlalu panjang.
5. Betapapun Pemerintah Daerah Timor Timur menginginkan agar supaya
pembangunan Bandara Komoro dilaksanakan dengan segera, namun demikian
pengadaan prasarana untuk keperluan itu sering mengalami hambatan.
6. Berhubungan dengan waktu kami sangat terbatas, karena itu tugas itu tidak sesuai
pada waktunya.
7. Barang keperluan penduduk desa itu antara lain sebagai contohnya beras, gula,
obat-obatan dan lain-lain sebagainya.
8. Para Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian terlebih dulu kami ucapkan salam
sejahtera.
9. Sejak dari dulu penanaman kopi itu sudah dilakukan oleh rakyat.
10. Demikian juga kehadiran para pengusaha nasional pun untuk meningkatkan
produksi dan mutu perkebunan kopi itu.
Kesalahan Urutan Kata
Kesalahan penulisan kalimat dapat juga terjadi karena urutan katanya tidak sesuai
dengan kaidah kalimat bahasa Indonesia. Kesalahan seperti itu dapat dilihat pada contoh
berikut.
( 6 ) Saya telah umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk
merayakan hari ulang tahun megara kita yang ke-45.
Kesalahan urutan pada kaliamt (6) tampak pada bagian saya telah umumkan, pada
ini hari, dan ulang tahun negara kita yang ke-45. Menurut kaidah penulisan kalimat
bahasa Indonesia, urutan kata pada bagian-bagian itu hendaklah diubah menjadi telah
saya umumkan, pada hari ini, dan ulang tahun ke-45 negara kita. Dengan perubahan
urutan kata seperti yang telah dilakukan itu, kalimat berikut ini menjadi kalimat yang
benar.
(6a) Telah saya umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk
merayakan hari ulang tahun ke-45 negar kita.
Latihan
Ubahlah urutan kata pada bagian tertentu dalam kalimat-kalimat berikut ini sehingga
menjadi kalimat yang benar.
1. Saya punya istri pergi berobat ke dokter.
2. Itu peristiwa kami tidak lupakan.
3. Selama di Jayapura aku tinggal di Wisma Cendana.
4. Persoalan yang begitu macam yang saya tidak senangi.
5. Negara kebanyakan sudah mengetahui bahwa perang Iran-Irak selesai sudah.
6. Sekarang sudah mereka menyadari, barang-barang itu adalah mereka punya.
7. Mereka melangsungkan pernikahannya ketika berumur 20 dan 25 masing –
masing.
8. Waspadai kita harus supaya desa kita tetap aman.
9. Rumah besar itu dapat dihuni oleh tiga atau lebih kepala keluarga.
10. Sebelum diterbitkan naskah itu perlu dicoba cetak.
Kesalahan Pemakaian Kata dan Ungkapan Penghubung.
Yang dimaksud dengan kata atau ungkapan penghubung dalam pembicaraan , ini
ialah semua kata atau ungkapan yang digunakan oleh penulis (pemakai bahasa) untuk
menghubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan kalimat yang satu dengan
kalimat yang lain. Kata penghubung antarbagian kalimat yang lazim dipakai supaya,
meskipun, sebagai, karena, dan bahwa.
(7) Bu Siska adalah seorang guru teladan dan anak-anaknya pun pandai-pandai pula.
(8) Fernandez ingin menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi ai hanya berhasil menjadi
juara tiga.
(9) Pak Mario tidak masuk kantor hari ini karena sakit.
(10) Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I irian Jaya berusaha keras untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
(11) Gubernur mengumumkan bahwa kota Mataram, tahun depan akan menjadi kota
wisata.
(12) Pembangunan di bidang pariwisata Propinsi Nusa Tenggara Timur terus
ditingkatkan agar kehadiran para wisatawan asing terus meningkat.
(13) Di kampung kami dipasang dua puluh sumur pompa ketika musim kemarau
sangat panjang.
Menurut kenyataannya, dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari sering ditemukan
beberapa kesalahan, yaitu makin kaburnya batas pemakaian penghubung antarbagian
kalimat dan penghubung antar kalimat.
Contoh:
(14) Pak Carlos menghadapi persolan yang berat di kantornya. Tapi ia pun dengan
sabar dapat menyelesaikannya.
(15) Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya. Yaitu tenun ikat khas
Timor Timur yang dahulu hanya diapakai oleh raja-raja.
Kata tapi dan yaitu yang seharusnya berfungsi sebagai penghubung antarbagain kalimat,
dapat juga sebagai penghubung antarkalimat.
Bandingkanlah dengan kalimat di bawah ini.
(14a) Pak Carlos menghadapi persoalan yang berat di kantornya, tetapi ia pun dengan
sabar dapat menyelesaikannya.
(15a) Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya, yaitu tenun ikat yang khas
Timor Timur yang dahulu dipakai oleh raja-raja.
Ungkapan penghubung yang berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan
kalimat yang lain tidak banyak jumlahnya.
Yang lazim dipakai dalam bahasa Indonesia antara lain (oleh), karena itu, namun,
kemudian, setelah itu, bahkan, selain itu, sementara itu, walupun demikian, sehubungan
dengan itu.
Contoh pemakaiannya dapat dilihat seperti dibawah ini.
(16) Pembangunan di bidang pariwisata terus ditingkatkan. Oleh karena itu
kehadiran wisatawan asing di Indonesia setiap tahun terus bertambah.
(17) Musim kemarau tahun ini di desa kami sangat lama. Walaupun demikian berkat
pemasangan sumur pompa bahaya kekeringan dapat diatasi.
Kesalahan pemakaian ungkapan penghubung antarkalimat sama halnya dengan
kesalahan pemakaian kata penghubung antar bagian kalimat yaitu pemakaian kedua jenis
penghubung itu dikaburkan seperti contoh berikut ini.
(18) Saya tidak sependapat dengan mereka, namun demikian saya tidak akan
menentangnya.
(19) Fernandez anak yang tergolong pandai di sekolahnya bahkan ia pernah menjadi
juara tiga.
Jika ungkapan penghubung antarkalimat digunakan dengan benar, kalimat itu seharusnya
ditulis sebagai berikut.
(18a) Saya tidak sependapat dengan mereka. Namun, saya tidak akan menentangnya.
(19a) Fernandez anak yang tergolong pandai di sekolahnya. Bahkan, ia pernah menjadi
juara kelas.
Latihan.
1. a. Semua penduduk kecamatan itu dikerahkan untuk melakukan penghijauan
bukit-bukit gersang.
b. Pada musim hujan bahaya banjir dapat dicegah.
2. a. Raja Los Palos selama lima hari berada di Jakarta.
b. Semua objek wisata di kota itu dikunjunginya.
3. a. BRI memberikan kredit ringan kepada para petani kecil untuk meningkatkan
produksi pertaniannya.
b. Tidak semua petani dapat memanfaatkan kesempatan ini.
4. a. Pembangunan di daerah itu tidak perlu memiliki pola yang sama dengan pola
pembangunan di daerah lain.
b. Kegagalan pembangunan yang dialami di daerah itu tidak terulang lagi.
5. a. Setiap orang dalam hidupnya pasti mengalami berbagai persoalan.
b. Kadang-kadang mereka tenggelam dalam sejuta kesulitan hidupnya.
Kesalahan Pemakaian Kata Depan
Berikut ini dikemukakan contoh kesalahan pemakaian kata depan.
(20) Kegiatan itu kami laksanakan berdasarkan arahan daripada Menteri Dalam
Negeri, Rudini
(21) Ia dapat menamatkan pendidikannya dari SMA berkat dorongan dari kepala
desanya.
(22) Bagi warga desa yang berminat mendapatkan kredit bank harap mendaftarkan
namanya di kantor kelurahan.
(23) Saya mengharapkan Saudara untuk hadir dalam rapat itu.
(24) Sebaiknya mereka sudah menyadari tentang perbuatannya yang merugikan
masayarakat itu.
(25) Pembinaan hukum di Indonesia harus dilaksanakan dengan berlandaskan pada
Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945.
(26) Dengan pandangan itu dapat menerapkan program keluarga berencana di desa ini.
Pemakaian kata daripada, dari, bagi, untuk, tentang, pada, dan dengan dalam kalimatkalimat
itu merupakan kata-kata yang mubazir. Karena itu, kehadiran kata yang mubazir
dapat merupakan ganjalan bagi pengungkapan pikiran yang terkandung dalam kalimat
itu. Jika kata yang dianggap mubazir itu dihilangkan, kalimat tersa lebih jernih.
Bandingkan kejernihan kalimat (20) hingga (26) dengan kalimat-kalimat berikut:
(20a) Kegiatan itu kami laksanakan berdasarkan arahan Menteri Dalam Negeri, Rudini.
(21a) Ia dapat menamatkan pendidikan SMA-nya berkat dorongan kepala desanya.
(22a) Warga desa yang berminat mendapatkan kredit bank, harap mendaftarkan namanya
di kantor kelurahan.
(23a) Saya mengharapkan saudara hadir dalam rapat itu.
(24a) Sebaiknya mereka sudah menyadari perbuatannya yang merugikan masyarakat.
(25a) Pembinaan hukum di Indonesia harus dilaksanakan dengan berlandaskan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945.
(26a) Pandangan itu dapat menerapkan program keluarga berencana di desa ini.
Agar kita dapat menggunakan kalimat yang benar dalam berbahasa Indonesia,
kata daripada, dari, bagi, untuk, tentang, pada dan dengan harus dipakai secara tepat.
Kaidah pemakaiannya dapat dikemukakan seperti dibawah ini.
a. Kata daripada dipakai untuk menandai perbandingan.
b. Kata dari dipakai untuk menandai hubungan asal, arah dari suatu tempat, atau
pemilik.
c. Kata bagi dipakai untuk menandai hubungan peruntukan.
d. Kata tentang dipakai untuk menandai hal ihwal peristiwa.
e. Kata pada dipakai untuk menandai hubungan tempat atau waktu.
f. Kata untuk pemakainya sama dengan kata bagi.
g. Kata dengan dipakai untuk menandai hubungan kesertaan atau cara.
Latihan
Gunakanlah kata depan seperti yang dikemukakan di atas secara tepat dalam kalimat
berikut.
1. Usia istriku sama .......... usia Bu Maria.
2. ..... wanita itu tidak terlihat adanya sifat keibuan.
3. Masalah ....pembinaan koperasi unit desa di daerah itu mulai menjadi perhatian.
4. Pak Pedro bekerja keras ....... kepentingan masyarakat.
5. Keuntungan apa yang bisa kita petik .... peristiwa ini.
6. Harga pakaian wanita di kota Dili lebih mahal ......... harga pakaian wanita di kota
kupang.
7. Kayu itu dibelah ...... kapak.
8. Pertemuan itu akan diadakan ........ tanggal 21 Maret 1990.
9. Mereka bercerita ...... pengalamannya di Australia.
10. ....... siapa baju itu Anda buat?
11. Bu Susana berasal ..... Kabupaten Minahasa.
12. Pak Carlis lebih tua ........ Fernandez.
Kesalahan Pemakaian Bentuk Kata
Kebenaran suatu kalimat tidak hanya ditentukan oleh keteraturan bagianbagiannya
sebagai satuan pembentuk kalimat, tetapi juga ditentukan oleh bentuk dan
pilihan kata yang mengisi bagian-bagian itu. Jadi, kesalahan kalimat dimungkinkan juga
oleh adanya pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak benar.
Kesalahan kalimat yang disebabkan oleh kekurangtepatan memilih bentuk kata,
dalam kenyataannya masih sering dijumpai.
Hal itu seperti tampak dalam kalimat berikut.
(27) Dengan sangat menyesal kami tidak dapat memenuhi permintaan Anda karena
persediaan barang kami sudah habis.
(Bentuk yang benar adalah sediaan, bukan persediaan)
(28) Semula langganan Bapak saya layani dengan baik
(Bentuk yang benar adalah pelanggan, bukan langganan)
(29) Pemutaran roda itu harus tetap pada porosnya.
(Bentuk yang benar adalah perputaran karena bentuk ini diangkat dari berputat,
bukan memutarkan).
(30) Bahasa Indonesia adalah pemersatu bangsa dalam usaha menyatukan bangsa
Indonesia.
(Bentuk yang benar adalah mempersatukan, bukan menyatukan; mempersatukan
berkolerasi dengan bersatu).
Dalam bahasa Indonesia tersapat serangkaian kata yang proses pembentukannya
menunjukkan keteraturan, misalnya dalam pembentukan kata-kata berikut :
tulis menulis penulis penulisan tulisan
pilih memilih pemilih pemilihan pilihan
buat mebuat pembuat pembuatan buatan
serang menyerang penyerang penyerangan serangan
pukul memukul pemukul pemukulan pukulan
tani bertani petani pertanian
dagang berdagang pedagang perdagangan
tinju bertinju petinju pertinjuan
gulat bergulat pergulat pergulatan
mukim bermukim pemukiman permukiman
satu bersatu mempersatukan pemersatu
solek bersolek mempersolek pemesolek
oleh beroleh memperoleh pemeroleh
Latihan
Istilah kalimat berikut ini dengan bentuk kata yang tepat dan benar.
1. Negara kita adalah negara (satu).
2. Pusat (didik dan latih) Departemen Pertanian berada di luar kota.
3. (mukim) baru pegawai Pemerintah Daerah Timor Timur dipusatkan di luar kota
Dili.
4. Setiap hari Jumat semua karyawan dan karyawati melakukan kegiatan senam pagi
sebagai usaha (olahraga) masyarakat.
5. Thomas Americo (tinju) yang berasal dari Timor Timur.
6. Karena masa dinasnya sudah habis Pak Inyo (henti) dengan hormat dari
jabatannya.
7. Bahasa Indonesia adalah alat (satu) bangsa.
8. Fernandez berusaha (terap) ilmu yang selama ini ditekuninya sebagai petani
unggulan.
9. (terampil) menggunakan komputer sekarang sangant diperlukan.
10. Mereka hidup dari (tinggal) orang tuanya.
11. Semua (taman) di kota itu sangat menarik karena ditata dengan baik.
12. (naik) pangkat Pak Mario terpaksa ditunda karena semua jabatan di katnornya
sudah terisi.
13. Kepala sekolah memanggil beberapa orang tua murid untuk (tanggung jawab)
perbuatannya yang merugikan sekolah.
14. Pameran itu (selenggara) untuk merayakan Hari Kanak-Kanak Sedunia.
15. Selama ini biaya yang digunakan untuk kuliah adalah (beri) pamannya.
16. Masalah (penduduk) sangat erat hubungannya dengan kelestarian lingkungan
hidup.
17. Keadaan penghasilan dan pengeluaran yang belum (imbang) menunjukkan
perekonomian yang lemah.
18. Pusat perbukuan dapat mengatur (ada) buku pelajaran dari SD hingga SMA.
19. (kembang) perbankan di Indonesia dewasa ini cukup menggembirakan.
20. Selama penataan ini para peserta (pusat) perhatiannya kepada pemakaian bahasa
Indonesia yang benar.
Ciri ragam bahasa keilmuan ditandai dengan penalarannya yang cermat dan teliti,
di samping objektif. Pengalimatan dalam penulisan karya ilmiah harus memperhatikan 3
syarat yaitu jelas, lugas dan komunikatif.
Kejelasan kalimat dapat dicapai mengeksplisitkan unsur-unsur kalimat ragam
bahasa tulis, seperti subjek, predikat, objek dan keterangan. Setiap susunan kalimat
hendaknya terdiri dari subjek dan predikat, atau juga mengandung objek dan keterangan
kalimat (sesuai dengan keperluan) sehingga dapat disebut struktur kalimat yang
memenuhi persyaratan tata bahasa.
Kelugasan kalimat berkaitan dengan makna, artinya kalimat dalam suatu
paragraf harus hanya mempunyai satu tafsiran yang sama bagi penulis dan pembacanya.
Hindarkan pemakaian pengulangan kata, contoh:
Kalimat salah :
1. Daftar lembaga-lembaga yang pernah bekerja sama dengan Universitas Bina
Nusantara dapat dilihat pada Tabel 5.
2. Menurut keterangan yang diperoleh, selama ini belum pernah ada tawaran bagi
dosen-dosen untuk mengikuti program-program di luar negeri.
Kalimat yang benar :
1. Daftar lembaga yang pernah bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara
dapat dilihat pada Tabel 5.
2. Menurut keterangan yang diperoleh, selama ini belum pernah ada tawaran bagi
dosen untuk mengikuti program pelatih di luar negeri.
Komunikatif berkaitan dengan pemahaman pembaca terhadap suatu karya
ilmiah. Sebuah karangan disebut komunikatif apabila disajikan secara logis dan
sistematis. Hubungan kelogisan ditandai dengan hubungan antarbagian dalam kalimat,
antarkalimat dalam alinea, dan antaralinea dalam wacana, yang antara lain
memperlihatkan sebab akibat, kesejajaran, atau kemungkinan.
PARAGRAF
1. Pengertian :
Inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan.
2. Keguanaan paragraf :
Untuk menandai pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih lajut topik
sebelumnya.
3. Macam-macam paragraf :
a. Berdasarkan tujuan dan tempatnya :
1. Paragraf pembuka
• Pengantar
• Penarik minat dan perhatian pembaca
• Penyiapan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan
• Pendek, supaya tidak membosankan yaitu 1/7 panjang paragraf
2. Paragraf penghubung
• Berisi inti persoalan yang akan dikemukakan.
• Analisa masalah
• Antara paragraf dengan paragraf harus berhubungan secara logis.
3. Paragraf penutup
• Mangakhiri sebuah karangan/wacana
• Berisi kesimpulan, penegasan dari paragraf penghubung
• Pendek
TUGAS :
1) Baca salah satu paragraf
2) Sebutkan ciri-ciri, isi, dan sifat-sifat paragraf pada contoh yang anda baca!
a) paragraf pembukanya;
b) paragraf penghubungnya;
c) paragraf penutupnya.
4. Syarat-syarat paragraf:
a. Kesatuan pikiran :
• Tiap paragraf mengandung satu pikiran atau gagasan (tema);
• Fungsi paragraf mengembangkan tema;
• Tidak boleh ada kalimat yang sumbang;
• Semua kalimat mengembangkan/mendukung atau menjelaskan satu pikiran
pokok.
TUGAS
Baca contoh suatu paragraf dan analisislah:
• Tema
• Fungsi kalimat
• Pengembangannya
b. Kepaduan koherensi :
• Tiap kalimat mempunyai hubungan timbal balik;
• Masing-masing kalimat mempunyai hubungan terpadu;
• Menggambarkan jalan pikiran yang logis;
• Kepaduan paragraf dibangun dengan :
1) Unsur kebahasan:
• Repetisi / Pengulangan
• Kata ganti
• Kata / ungkapan transisi
2) Urutan isi :
• Pikiran utama --- penjelasan
• Kronologis
• Sebab �� akibat / akibat �� sebab
• Umum �� khusus / khusus �� umum
• Proses
• Urutan ruang / spasial
• Analogi
• Perbandingan
• Pemecahan masalah
c. Kelengkapan
Berisi kalimat-kalimat penjelasan yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik
atau kalimat utama.
TUGAS:
Baca salah satu contoh paragraf dan analisislah jenis mana yang digunakan dan
kelengkapannya!
Letak Kalimat Utama
1. Pada Awal Paragraf
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama kemudian
diikuti oleh kalimat-kalimat penjelasan. Paragraf ini bersifat deduktif (dari yang umum
kepada yang khusus).
TUGAS:
Baca salah satu contoh paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf!
2. Pada Akhir Paragraf
Paragraf ini dimulai dengan kalimat-kalimat yang berisi penjelasan-penjelesan atau
perincian-perincian kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini bersifat induktif
(dari yang khusus kepada yang umum).
TUGAS:
Baca salah satu contoh paragraf yang bersifat induktif!
3. Pada Awal dan Akhir Paragraf
Kalimat utama dapat diletakkan pada awal dan akhir paragraf. Fungsi kalimat utama pada
akhir paragraf ini untuk menentukan/menegaskan kembali pikiran utama dengan kalimat
yang bervariasi.
TUGAS:
Baca salah satu contoh paragraf yang kalimat utamanya terletak pada awal dan akhir
paragraf!
4. Paragraf Tanpa Kalimat Utama
Paragraf seperti ini menunjukkan bahwa pikiran utama terbesar di seluruh kalimat yang
membangun paragraf tersebut.
TUGAS:
Baca salah satu contoh paragraf yang tanpa kalimat utama!
CONTOH KOHERENSI PARAGRAF YANG KURANG BAIK
PEREDAMAN INTERFERENSI PITA SEMPIT PADA DIRECT – SEQUENCE CODE
DIVISION MULTIPLE ACCESS DENGAN FILTER PREDIKSI MULTI BANDSTOP
BERBASIS JARINGAN SYARAT TIRUAN LAPIS BANYAK
Yudha Pratidina, Taufik Hasan, Joko Haryanto
STT Telkom, Jl. Radio Palasari Bandung
Sistem komunikasi Direct Sequence Code Division Multiple Acces (DS-CDMA)
merupakan teknik akses jamak spektrum tersebar yang mempunyai kemampuan bertahan
terhadap alur jalur ragam dan kemampuan meredam sinyal interfensi. Pada saat DSCDMA
menempati jalur frekuensi yang sama dengan suatu spektrum frekuensi pita
sempit. Maka akan timbul interfensi pita sempit pada DS-CDMA. Untuk suatu kondisi di
mana perbandingan daya interfensi dan daya sinyal spektrum masih di bawah nilai
ambangnya DS-CDMA dapat menekan daya sinyal pita sempit tersebut.
Pada proses despreading yang dilakukan oleh penerima, sinyal spektrum tersebar
akan dikolerasi oleh penerima, sinyal spektrum tersebar akan dikolerasi oleh kode yang
bersesuaian pada penerima, sehingga akan mengembalikan informasi pita sempit yang
dibawanya. Sebaliknya, sinyal interfensi pita sempit yang masuk pada penerima akan
dispreading oleh bit-bit kode, sehingga akan menjadi sinyal dengan daya yang tersebar
pada rentang lebar pita yang lebar. Daya yang tersebar ini akan mempunyai rapat daya
yang rendah, sehingga pengaruhnya akan semakin kecil terhadap sinyal DS-CDMA.
Tingkat penyebaran daya sinyal interfensi pita sempit (jammer) sangat
dipengaruhi oleh panjang kode yang digunakan pada sistem DS-CDMA tersebut.
Semakin panjang kode yang digunakan maka tingkat penyebaran sinyal jammer akan
semakin besar, yang berarti level daya sinyal jammer tersebut akan terlalu panjang dan
level sinyal jammer yang sangat tinggi, kinerja sistem DS-CDMA akan sangat jelek. Hal
ini bisa dilihat dengan nilai probability of error yang semakin besar.
CONTOH KOHERENSI PARAGRAF YANG BAIK
MEMPERKUAT BUDAYA PERUSAHAAN UNTUK MENINGKATKAN
KINERJANYA DALAM JANGKA PANJANG
Nurainun Bangun
Budaya perusahaan adalah seperangkat nilai, norma, persepsi dan pola perilaku
yang diciptakan atau dikembangkan dalam sebuah perusahaan untuk mengatasi masalah
adaptasi secara eksternal dan integrasi secara internal. Premis ini diyakini kebenarannya
setelah teraplikasi dengan baik dalam perusahaan, sehingga dianggap bernilai positif dan
pantas diajarkan kepada pegawai baru sebagai pangkal tolak yang tepat untuk berpikir
dan bertindak dalam mengatasi masalah (Schein 1985).
Untuk memahami budaya perusahaan, perlu disimak melalui lingkup yang lebih
luas yaitu kebudayaan nasional yang bersifat makro, sebab pada dasarnya budaya dari
sebuah organisasi timbul karena adanya iteraksi antar anggota oraganisasi itu. Sedangkan,
sebelum orang masuk ke dalam wadah organisasi, mereka telah membawa atau memiliki
nilai dasar yang diyakini. Budaya perusahaan umumnya diciptakan oleh pemilik atau para
pemimpin yang mendirikan perusahaan. Gaya kempemimipinan cenderung dipengaruhi
oleh perilaku manajemen perusahaan yang selanjutnya akan memberi efek terhadap
budaya perusahaan.
Budaya perusahaan mempunyai pengaruh penting terhadap kinerja ekonomi
jangka panjang bagi perusahaan. Diketahui bahwa dengan budaya yang mengutamakan
pelanggan, pemegang saham, karyawan dan kepemimpinan dari manajer pada semua
tingkat organisasi, menggalakkan kinerja perusahaan yang tidak mempunyai budaya kuat
dengan perbedaan yang amat besar.
BAB III
PENULISAN KARYA ILMIAH
PEMILIHAN TOPIK
Kegiatan yang mula-mula dilakukan jika akan menulis suatu karya ilmiah ialah
menentukan topik (pokok pembicaraan). Dalam memilih topik perlu dipertimbangkan
beberapa hal sebagai berikut :
1. Topik tersebut ada manfaatnya dan layak dibahas;
2. Topik tersebut cukup menarik terutama bagi penulis;
3. Topik tersebut dikenal baik oleh penulis;
4. Bahan pendukung penulisan dapat diperoleh dan cukup memadai;
Topik yang telah dipilih harus dibatasi, jangan terlalu luas dan juga tidak terlalu
sempit. Proses pembatasan topik dapat dipermudah dengan cara membuat diagram jam,
diagram pohon, dan piramida terbalik.
PEMBATASAN TOPIK
1. Diagram Jam
Untuk membuat diagram jam, topik diletakkan dalam sebuah lingakaran. Dari
topik itu diturunkan beberapa topik yang lebih sempit.
Ilmu Kelautan
Lautan Atlantik laut sebagai sumber energi
masa depan
Lautan teritorial kekayaan di lautan
Indonesia
Lautan sebagai laut di
lapangan kerja Indonesia
peranan laut dalam laut bagi
hubungan antarbangsa bangsa Indonesia
riwayat lautan kehidupan dalam laut
kandungan kimia
air laut
Gambar 1. Diagram Jam
LAUT
Diagram di atas disebut diagram jam. Dengan diagram jam itu akan diperoleh dua
belas topik yang lebih terbatas tentang laut. Kedua belas topik itu dapat dibatasi
lebihlanjut dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang akan mempersempit
dan mengarahkan pembahasan.
Misalnya, kita ingin membahas topik “kekayaan di lautan.” Kekayaan di lautan
mana? Di wilayah Indonesia? Kekayaan jenis mana yang akan dibahas: fauna, flora
atau mineral? Kita pilih misalnya, fauna. Fauna yang mana: ikan, udang, kerang
mutiara ? Aspek apa yang akan kita bahas? Pembudidayaannya? Melalui pertanyaanpertanyaan
itu kita akan sampai pada topik yang cukup terbats, misalnya
“pembudidayaan karang mutiara di Maluku Selatan.”
Cara lain untuk menemukan topik yang terbatas ialah dengan jalan membuat
diagram pohon. Dengan diagram ini kita akan memecahkan topik-topik setingkat
demi setingkat dan menggambarkannya sebagai cabang-cabang dan ranting pohon
yang terbalik (lihat Gambar 2).
Selain dengan diagram jam dan diagram pohon, pembatasan topik juga
digambarkan dengan piramida terbalik (lihat gambar 3).
Lautan
kekayaan lautan sebagai lautan sebagai dst
di lautan lapangan kerja sumber energi
yang potensial
fauna flora mineral
ikan udang kerang mutiara
pembudidayaannya pemasaran hasilnya dst
Gambar 2. Diagram pohon
--------------------------------------------------------------------
Lautan
-------------------------------------------------------------
lautan Indonesia
------------------------------------------------------
kekayaan
lautan Indonesia
--------------------------------------------
fauna
-------------------------------------
karang
mutiara
--------------------------
pembudidayaan
karang mutiara
di Maluku
Selatan
Gambar 3. Piramida Terbalik
TOPIK DAN JUDUL
Setelah diperoleh topik yang sesuai maka dalam pelaksanannya topik yang telah
dipilih itu harus dinyatakan dalam suatu judul karangan. Apakah yang dimaksud dengan
judul? Samakah judul dengan topik?
Yang dimaksud dengan topik ialah pokok pembicaraan dalam keseluruhan
karangan yang akan digarap; sedangkan judul ialah nama, titel atau semacam label
untuk suatu karangan. Pernyataan topik mungkin saja sama dengan judul, tetapi tidak
mungkin juga tidak. Dalam karangan fiktif (rekanan) kerap kali judul karangan tidak
menunjukkan topik. Roman Layar Terkembang misalnya tidak membicarakan layar
dalam arti sebenarnya. Demikian juga novel Kabut Sutra Ungu, sama sekali tidak
membahas kabut ataupun sutera dalam arti yang sebenarnya.
Dalam karangan formal atau karangan ilmiah judul karangan harus tepat
menunjukkan topiknya. Penentuan judul tersebut harus dipikirkan secara bersungguhsungguh
dengan mengingat beberapa persyaratan, antara lain :
1) Harus sesuai dengan topik atau isi karangan beserta jangkauannya;
2) Judul sebaiknya dinyatakan dalam bentuk frase. Judul sebaiknya dinyatakan
dalam bentuk frase benda dan bukan dalam bentuk kalimat. Judul
“Pembudidayaan Kerang Mutiara di Maluku Selatan” berbentuk frase. Judul itu
akan menjadi kalimat bila kita ubah menjadi “Kerang Mutiara di Maluku Selatan
Perlu Dibudidayakan”.
3) Selanjutnya, judul karangan diusahakan sesingkat mungkin. Misalnya “ Cara
untuk Membudidayakan Kekayaan Lautan yang Berupa Kerang Mutiara di
Maluku Selatan”, dapat disingkat dalam bentuk frase seperti pada butir 2);
4) Judul harus dinyatakan secara jelas, artinya judul itu tidak dinyatakan dalam kata
kiasan atau tidak mengandung kata yang mengandung arti ganda. Misalnya judul
“Menjelajahi Neraka Dunia” tidak dapat digunakan dalam karangan ilmiah yang
memaparkan hasil pengamatan terhadap keadaan ekonomi negara-negara yang
sedang berperang.
Harus pula diingat bahwa:
1. Judul merupakan satu-satunya bagian tulisan seseorang yang dibaca orang
lain;
2. Usahakan agar sekali dibaca judul dapat langsung ditangkap maknanya.
3. Judul tidak boleh lebih dari 12 patah kata atau paling banyak 90 ketukan
mesin ketik;
4. Kalau tak terhindarkan, pisahkan sebagian menjadi anak judul;
5. Oleh sebab itu gunakan kata dan istilah yang padat makna;
6. Judul hendaknya tidak mengandung singkatan atau akronim;
BAB IV
PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER INFORMASI
PENDAHULUAN
Setiap kegiatan ilmiah, khususnya penulisan karya ilmiah selalu dimulai dengan
studi literatur atau lazim juga disebut studi kepustakaan. Literatur yang dicari dan
dipelajari tentunya mengenai subjek yang telah ditentukan sebagai topik penulisan.
IFLA (International Federation of Library Association and Institution)
mendefinisikan perpustakaan sebagai suatu tempat yang mempunyai koleksi (buku dan
terbitan cetak atau noncetak, serta sumber informasi dalam komputer) yang disusun
secara sistematis untuk kepentingan pemakainya.
Susunan koleksi yang telah diatur secara sistematis tersbut mempunyai alat untuk
mengakses yang disebut katalog. Urat nadi perpustakaan adalah katalog. Oleh sebab itu
katalog harus dibuat dengan teliti dan konsisten mencerminkan informasi penting yang
tersimpan di koleksi perpustakaan.
Informasi perpustakaan dapat diketahui melalui:
1. Katalog pengarang
Terdiri dari entri pengarang yang disusun secara alfabetis, memberikan informasi
mengenai karya seorang pengarang yang dimiliki perpustakaan. Pengertian pengarang
mencakup juga penyuntingan (editor), compiler (penyusun), ilustrator, dan penerjemah.
Contoh :
Anwar, Rosihan
Indonesia 1976 – 1983 : dari koresponden
kami di Jakarta / oleh Rosihan Anwar, Penyunting
Anzis Kleden, Bhanu Setyanto – Jakarta:
Pustakan Utama Grafiti, 1992.
X, 162p.; 21 cm.
2. Katalog Judul
Merupakan entri judul yang disusun menurut abjad.
Contoh :
Abnormal Psychology.
Duke Marshall P.
Abnormal Psychology / by Marshall P. Duke, Stephen
Nowichi – New York: Holt Renchart and Winston, 1996.
3. Katalog Subjek
merupakan entri subjek yang disusun menurut abjad. Katalog ini banyak diminati
pemakai yang tidak mengerti judul ataupun pengarang koleksi perpustakaan dengan baik.
Contoh:
Agama Islam
Amal, Taufik Adnan.
Tafsir Kontekstual Al-Qur’an / oelh Taufik
Adnan Amal, Syamsu Rizal Panggabean. Bandung: Mirza, 1990
199p; 21 cm
Katalog dapat berupa kartu, list (daftar), ataupun berkomputer yang biasa disebut OPAC
(Online Public Access Catalogues).
KOLEKSI PERPUSTAKAAN
Dengan adanya ledakan informasi sungguh tidak mudah bagi seorang penulis atau
penyusun karya ilmiah untuk menemukan informasi secara tepat dan ceat. Strategi untuk
menemukan informasi secara cepat dan tepat disebut penelusuran. Supaya penelusuran
dapat berjalan dengan efektif, penulis perlu mengenal koleksi referensi dengan berbagai
kegunaan dan keterbatasannya. Menguasai koleksi referensi berarti mempersempit
kemungkinan tersesat (dalam arti membuang waktu) dalam usaha penulis untuk
menemukan informasi yang mereka perlukan.
Katz (1992) menggolongkan koleksi referensi sebagai berikut:
Kamus:
untuk mengetahui ejaan, ucapan, etimologi, definisi secara singkat. Untuk
memperoleh penjelasan terminologi mungkin akan diperlukan kamus luas (unabridged)
atau melalui jenis glosari. Kamus dua bahasa mungkin juga akan diperlukan untuk
memperoleh penjelasan suatu terminologi.
Ensiklopedi:
tak jauh berbeda dengan kamus, hanya saja uraian di ensiklopedi bersifat lebih
luas. Dari suatu ensiklopedi kita diatar ke pengetahuan dasar. Lazimnya akhir suatu
penjelasan pada ensiklopedi ditutup dengan suatu bibliografi sebagai saran studi lanjut.
Tabel:
suatu deretan kata-kata, fakta, bilangan dalam suatu sistem untuk memudahkan
referensi dan perbandingan. Tabel dapat terdiri dari satu atau dua baris, dapat juga terdiri
dari berjilid-jilid buku seperti International Critical Tables. Tabel bisa berdiri sendiri
menjelaskan maksud, tetapi dapat juga tergantung dengan teks yang mengikutinya.
Grafik dapat juga dimaksukan dalam golongan tabel, karena keduanya menunjukkan
hubungan 2 atau 3 variabel yang satu digambarkan dengan grafik yang lainnya dengan
bentuk tabular.
Buku pegangan: terutama disiapkan dengan tujuan sebagai alat referensi dalam suatu
bidang khusus, oleh sebab itu bahasa baku pegangan bersifat teknis dan banyak
menggunakan istilah. Bidang khusus tadi perlu penulis kuasai supaya dapat memahami
pesan-pesannya. Mereka yang masih sukar memahami buku pegangan, berarti bahwa
mereka belum menguasai benar bidangnya. Dalam tugas sehari-hari buku pegangan
dimanfaatkan untuk memperoleh data teknis atau ide baru.
Sifat baru (up to dateness) buku pegangan perlu diawasi dalam orang menggunakannya
sebagai referensi. Apa sebenarnya bedanya dengan ensiklopedi? Kita menggunakan
ensiklopedi untuk memperoleh gambaran atau dukungan suatu konsep. Pada buku
pegangan kita memperoleh kesatuan fakta.
Treatise: sebenarnya treatise merupakan rangkuman suatu bidang ilmu dengan tujuan
mengupas persolan-persoalan, dalam memahami argumentasi pada traitise, penulis
menguasai bidang tadi.
Supaya penulusuran dapat dikerjakan secara efektif, penting bagi penulis untuk
mengetahui penggolongan literatur sebagai berikut:
1. Sumber Primer (tak teratur pemuatannya)
Lazimnya memuat infomasi yang terbaru
A. Majalah
B. Karangan hasil lembaga
C. Literatur mengenai paten
D. Berbagai jenis sumbangan pikiran
2. Sumber Sekunder
Memuat informasi yang tercakup pada sumber primer. Pemuatannya dapat dikatakan
teratur.
A. Majalah dari jenis serial
1. Majalah indeks
2. Majalah sari
3. Jenis telaah (review)
B. Bibliografi
C. Refernsi umum dan eks
1. Referensi Umum
a. Indeks
b. Kamus
c. Ensiklopedi
d. Buku pegangan
e. Treatise
f. Monografi
2. Buku Teks
D. Lain-lain rangkuman
Bekal seseorang untuk menelusur dengan efektif ialah:
1. Imajinasi – mengarah ke sumber-sumber yang tidak terpikirkan oleh mereka yang
kurang imajinasi.
2. Keluwesan mental – mampu menyesuaikan diri pada ide-ide baru dan
kemungkinan-kemungkinan baru pada waktu penelusuran berjalan
3. Cermat – tidak melewatkan informasi penting
4. Teratur – mencatat apa yang telah ditelusur, apa dan di mana ditemukan
5. Tekun – tidak mudah menyerah kalau informasi yang diperlukan tidak ditemukan
6. Awas – mampu menemukan petunjuk-petunjuk baru
7. Tajam – mampu memutuskan pilihan informasi yang bertentangan
8. Teliti – ketidaktelitian dalam mencatat situasi pemborosan waktu kerja
KERANGKA KARANGAN
Kerangka karangan merupakan hasil penangungkapan ide seorang penulis yang mampu
mengungkapkannya secara tersusun dan terpadu. Susunan ide dalam komposisi yang
terpadu ikut menentukan baik tidaknya suatu karangan / laporan ilmiah.
Cara Penyusunan Ide
1. Menyusun kerangka karangan sebelum mulai menulis laporan
2. Mengembangkan pokok-pokok ide dalam alinea pada saat menyusun / menulis
laporan.
Penyusunan Kerangka Karangan
Sebelum dijelaskan bagaimana cara menyusun kerangka karangan, ada baiknya calon
penulis karangan/laporan ilmiah mengetahui batasan, fungsi dan jenis kerangka karangan.
1. Batasan
Kerangka karangan ialah susunan pokok-pokok pembicaraan yang dikemukakan dalam
suatu karangan/laporan.
2. Fungsi
Fungsi kerangka karangan ini dapat ditinjau dari tiga segi yaitu dari segi peneliti, penulis
laporan, dan pembaca.
a. Fungsi kerangka karangan ditinjau dari segi peniliti.
Laporan ilmiah memuat masalah yang diteliti, jalan penelitian, pembahasan, dan hasil
penelitian, serta saran-saran untuk langkah yang akan diambil sebagai tindak lanjut. Jalan
penelitian direncakan sebelum penelitian dilakukan. Penelitian dilaksanakan dengan
berpedoman pada rencana ini, yaitu yang berupa langkah-langkah yang akan dilakukan.
Langkah-langkah ini diungkapkan berupa topik-topik sebagai pokok pembicaraan yang
nanti dituangkan ke dalam laporan. Topik-topik disusun di dalam kerangka karangan.
Oleh sebab itu, kerangka karangan ini berguna bagi peniliti sebagai pedoman untuk
melaksanakan penelitian terutama dalam mengumpulkan data. Biasa kerangka karangan
yang disusun sebelum penelitian dilakukan ini akan mengalami perubahan pada waktu
penulisan laporan akan dimulai. Jadi, kerangka karangan disini berfungsi sebagai ancangancang
melakukan penelitian.
b. Fungsi kerangka karangan ditinjau dari segi penulisan laporan.
Kerangka karangan yang dibuat sebelum penelitian dilakukan diperhatikan kembali,
kemudian dibandingkan dengan fakta yang dihadapi waktu melaksanakan penelitian.
Selama mengumpulkan data dan melakukan penelitian banyak sekali pengetahuan dan
pengalaman penulis bertambah. Berdasarkan penambahan pengetahuan dan pengalaman
inilah peneliti/penulis laporan menyempurnakan dan menyusun kembali kerangka
karangan ini, makin mudah bagi penulis untuk menuangkan hasil penelitian dan
mengungkapkan gagasannya ke dalam laporan ini. Dengan demikian, diketahui bahwa
kerangka karangan berguna bagi penulis sebagai pedoman penulisan laporan tersebut.
Karangan pokok-pokok ide sudah tersusun secara terperinci dan terpadu.
c. Fungsi kerangka karangan ditinjau dari segi pembaca
Jika laporan sudah selesai ditulis, maka kerangka karangan (pokok-pokok pembicaraan)
ini dincantumkan di dalam daftar isi. Hal ini berguna bagi pembaca, karena mereka
dapat mengetahui dengan cepat ide-ide yang diungkapkan dalam laporan tersebut.
Jenis Kerangka Karangan
Berdasarkan cara mengungkapkan pokok-pokok pembicaraan ke dalam kerangka
karangan, maka kerangka karangan dapat dibagi atas tiga jenis
a. Kerangka karang topik
Pada kerangka karangan topik, pokok pembicaraan diungkapkan berupa kata atau
kelompok kata.
b. Kerangka karangan kalimat
Pada kerangka karangan kalimat, pokok pembicaraan diungkapkan dengan menggunakan
kalimat. Bentuk ini disebut juga kerangka karangan formal, karena bentuk inilah yang
diperlihatkan kepada pembimbing jika penelitian itu dilakukan dengan mendapat
bimbingan dari seseorang. Bentuk ini digunakan juga sebagai dasar pembuatan
proposal.
c. Kerangka karangan alinea
Pada kerangka karangan alinea, pokok pembicaraan diungkapkan dengan disertai
penjelasan seperlunya seghingga berbentuk alinea.
Cara pembuatan kerangka karangan.
Untuk memperoleh kerangka karangan yang tersusun, terperinci dan padu, hendaklah
ditempuh beberapa tahap kegiatan yaitu tahap:
1. pengumpulan ide;
2. penyaringan ide;
3. penyempurnaan ide;
4. pengelompokan ide;
5. penyusunan urutan ide;
1. Pengumpulan ide
Pada tahap pertama ini penulis cukup menuliskan pada selembar kertas semua ide
(pokok-pokok pembicaraan) yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, baik
mengenai bagian-bagian masalah, aspek-aspek yang mempengaruhi masalah, akibatakibatnya,
maupun jalan keluarnya. Semua ide (pokok pembicaraan) yang teringat oleh
penulis dicantumkan semua tanpa pikiran apakah ide itu perlu dikemukakan dan dibahas
atau tidak.
2. Penyaringan dan penyempurnaan ide
Setelah ditempuh tahap pertama, baru diperhatikan dan dipikirkan, apakah ada ide yang
tidak perlu dikemukakan/dibahas, kalau ada maka ide itu dicoret/dihilangkan. Sebaliknya
jika ada ide yang perlu dibahas tetapi belum tercantum pada daftar ide tadi, maka pada
daftar itu perlu ditambahkan ide yang dimaksud, demikina seterusnya sampai penulis
menganggap bahwa daftar ide itu cukup bagus.
3. Pengelompokan ide
Setelah penulis menganggap bahwa daftar ide itu sudah cukup, langkah berikutnya ialah
mengelompokkan ide-ide tersebut menurut jenisnya.
4. Penyusunan urutan ide
Ide-ide sekarang sudah terkelompok. Langkah-langkah berikutnya ialah penulis
memperhatikan ide yang terdapat pada setiap kelompok. Kemudian ide yang terdapat
pada setiap kelompok itu disusun menurut tingkatnya. Setiap kelompok ide diberi judul.
Kemudian judul-judul kelompok (beserta anggota kelompoknya) ini disusun pula
menurut tingkatnya. Jika langkah-langkah ini dilakukan dengan baik, maka penulis akan
melihat bahwa pokok-pokok pembicaraan sudah lengkap dikemukakan serta tersusun
secara teratur dan terpadu.
Contoh Kerangka Karangan
I. Kerangka Sementara
Topik: Kegiatan Mahasiswa Universitas Bina Nusantara Periode 1990 – 1995
I. Kegiatan Akademis
II. Kegiatan Sosial
III. Kegiatan Oleh Raga Seni
II. Kerangka Sementara dirinci, dikembangkan idenya menjadi:
Topik: Kegiatan Mahasiswa Universitas Bina Nusantara Periode 1990 –1995
1. Kegiatan Akademis
1.1 Penelitian
1.2 Seminar
1.3 Ceramah Ilmiah
1.4 Karya Wisata
2. Kegiatan Sosial
2.1 Partisipasi Mahasiswa dalam Membagikan Sembako kepada Masyarakat Sekitar
Kampus
2.2 Partispasi Mahasiswa dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat di Ciater, Jawa
Barat
2.3 Penggalangan Kerukunan Beragama bagi Warga Sekitar Kampus
BAB V
PENDAHULUAN
Bab ini merupakan pengenalan masalah yang akan dibahas dan menggambarkan
isi tubuh karangan secara singkat dan menyeluruh.
Bab Pendahuluan, biasanya di Bab I, mengemukakan:
1. perumusan dan pembatasan masalah
2. tujuan pemecahan masalah
3. dasar pemikiran pemecahan masalah
4. postulat (anggapan dasar)
5. hipotesis
6. metode penelitian dan teknik pengumpulan data
7. pembagaian tubuh karangan.
KERANGKA PENDAHULUAN
Terdiri dari 4 tahap:
Tahap I : Pengukuhan lingkup penelitian / pemikiran secara umum.
a) Dengan menyebutkan pentingnya penelitian atau gagasan tersebut
atau
b) Menyebutkan penelitian / gagasan terbaru di bidang tersebut.
Tahap II : Ringkasan penelitian terdahulu (secukupnya, relevant, sebaiknya artikel,
hindari text book yang berisi teori umum)
Tahap III : Menyiapkan penelitian / hasil pemikiran yang akan diuraikan
a) Dengan menunjukkan kekurangan / kelemahan penelitian terdahulu,
dan tujuan penelitian ini akan memperbaiki kekurangan tersebut
atau
b) Dengan mengajukan pertanyaan pada penelitian / hasil pemikiran yang
pernah dilakukan.
Tahap IV : Memperkenalkan penelitian / gagasan sekarang
a) Menyebutkan tujuan penelitian / gagasan
atau
b) Membuat kerangka (outline) penelitian / gagasan.
CONTOH PENDAHULUAN
I. (a) Tekanan Turgor dianggap suatu kekuatan pemacu yang diperlukan pada
perpanjangan sel tumbuhan.
Suatu penelitian tentang hubungan langsung di antara tekanan turgor pada dinding sel dan
perpanjangan selnya telah dilakukan pada sel ganggang (Green et all, 1991),
pada akar (Greasen dan Owen, 1982), coleoptiles (Cleland, 1987), dan
Cotyledons (Kirkhan et all, 1982)
II. (a) Melihat hasil penelitian di atas, terlihat masih banyak kesulitan untuk pengukuran
turgor daun, terutama di daerah perpanjangan sel-nya. Tingkat perpanjangan daun
dianggap tergantung pada kekuatan air daun. (Bayer, 1988).
III. (b) Tulisan ini akan membahas hubungan antara tingkat perpanjangan sel daun dan
jumlah kandungan air yang terdapat di daun tumbuhan berbiji tunggal dan berbiji
belah.
Tujuan penelitian untuk memperbaiki masalah pengukuran turgor pada daun.
Sampel diambil dari daun cemara dan gandum, kemudian melalui percobaan
laboratorium. Percobaan dilakukan pada tingkat penguapan rendah, dilajutkan
dengan pengukuran kekuatan osmotik cariran di dalam sel daun.
(Physiol. Plant 37:291-297)
(Sands, R dan Correl, R.L. Kekuatan air dan perpanjangan sel daun pada tanaman
cemara dan gandum, 1991.)
LATIHAN PEMBUATAN PENDAHULUAN
Urutkan paragraf di bawah ini menjadi suatu pendahuluan artikel ilmiah.
( ) Padi ini tahan terhadap pengaruh limbah logam, keasaman, keracunan boron dan
kekurangan unsur seng.
( ) Penelitian ini dibuat untuk mengumpulkan informasi pada pertumbuhan, produksi,
dan status nutrisi padi jenis IR 36 yang ditanam di daerah basah kering.
( ) Petani lebih menyukai menanam padi jenis ini karena masa tanamnya yang pendek,
berbatang rendah, berbulir banyak, dan tahan terhadap belalang dan wereng jenis 1 dan 2.
( ) Informasi tentang pertumbuhan padi IR 36 di tanah yang kandungan airnya berbeda
sangat terbatas.
( ) Padi dapat ditanam di tanah yang basah dan kering. Ditanam sebagai padi gogo
rencah, yaitu dengan pembenihan secara langsung, kemudian pertumbuhan selanjutnya
sebagai padi tanah basah atau kering.
( ) Varietas ini telah direkomendasikan sejak 1977.
( ) Di antara jenis padi unggul, IR 36 merupakan jenis yang banyak ditanam di
sebagian besar daerah Indonesia
( ) Di daerah kering padi ini tahan terhadap kekurangan zat besi dan keracunan perak
(IRRI, 1985)
Kerangka Pendahuluan Skripsi Universitas Bina Nusantara
Kerangka Pendahuluan Skripsi terdiri dari:
1. Latar Belakang
Ide pokoknya menguraikan alasan yang melatarbelakangi penulis meneliti topik
skripsi tersebut. Uraian dimulai dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal yang
berhubungan topik skripsi yang sedang dibahas.
2. Ruang Lingkup Penelitian
Batasan ide, pembahasan, dan sistem yang dibahas dalam tubuh karya ilmiah.
3. Tujuan dan Manfaat
Berisi penjelasan keadaan, hasil yang ingin dicapai dalam pemecahan masalah
dan manfaatnya.
4. Meotodologi
Tetapkan metode yang akan digunakan dalam penelitian dan cara memperoleh
datanya.
a. Pengumpulan data.
Sunber data adalah:
• lapangan
• laboratorium
• perpustakaan
b. Teknik Pengumpulan data:
• studi kepustakaan
• observasi
• eksperimen
• wawancara
• pengumpulan angket
Data utama dapat diperoleh langsung dari sumber asli. Di samping itu data dapat juga
diperoleh melalui tulisan yang sudah didokumentasikan atau dipublikasikan.
5. Sistematika Penulisan
Kerangka atau uraian masing-masing bab secara ringkas. Hindari kata-kata yang
menyebut nama diri, misalnya : penulis, saya, kami, dsb.
Latiahan:
1) Buatlah judul dari suatu topik yang penulis pilih.
2) Susun kerangka penulisannya.
3) Buatlah pendahuluan.
BAB VI
LANDASAN TEORI
Bab ini berisi teori ataupun peraturan yang dapat menunjang pembahasan dan dipakai
untuk memecahkan masalah di dalam karya ilmiah. Di samping itu, bila masalah itu
berhubungan erat dengan lokasi dan situasi sekitarnya, maka pada bab ini perlu pula
dikemukakan penggambaran lokasi dan situasi tersebut.
Penyajian teori dibagi atas
1) Teori dasar/umum
2) Teori khusus yang berhubungan dengan topik.
3) Review (tinjauan) penelitian yang telah dilakukan sebagai penunjang penelitian yang
sedang dilakukan.
Pengungkapan teori diambil dari literatur (buku teks, berkala) dipakai sebagai
penunjang penulisan karya ilmiah dengan cara “mengutip” pendapat penulis ataupun
pakar penyunting, penerjemah yang dimuat dalam koleksi literatur tersebut.
Pemakaian kutipan mempunyai aturan tertentu dan harus dipahami oleh setiap penulisan
karangan dan laporan ilmiah.
Pemakaian Kutipan
Dalam laporan ilmiah, kutipan dapat berupa sebagian (tidak utuh) dan kutipan
utuh. Kutipan tidak utuh terdiri dari kutipan yang dilesapkan pada bagian awal, tengah,
atau akhir kalimat, sesuai dengan keperluan. Kutipan yang dilesapkan pada bagian awal,
menurut Pedoman EYD, disulihkan dengan tiga buah tanda titik; yang dilesapkan pada
bagian akhir kalimat disulih dengan empat buah tanda titik (titik terakhir merupakan titik
terminal).
Berikut ini beberapa ketentuan menyajikan kutipan di dalam karya keilmuan.
a. Kutipan berbahasa Indonesia yang terdiri paling banyak tiga baris disajikan di
dalam teks laporan seperti menyajikan kalimat langsung. Menurut kaidah EYD,
penulisannya didahului oleh pemakaian tanda koma dan diapit oleh tanda petik
ganda. Jarak antarbaris pernyataan kutipan sama dengan jarak antarbaris teks
laporan. Antar huruf pertama dan terakhir tanda petik ganda tidak diberi spasi.
Misalnya:
(1) Keraf (1980:51) memberikan batasan tentang morfem sebagai berikut,
“Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang
dapat dibedakan artinya.”...
(2) Hal yang sama dikemukakan Tanpubolon (1983:493), “..., sedangkan bahasa
terdiri dari sejumlah perubahan ....” Dengan demikian, di dalam masyarakat
yang multilingual ....
(3) Bachtiar (1982:21) mengemukakan, “Para anggota birokrasi sesungguhnya
diatur oleh lebih daripada satu sistem budaya.” Oleh karena itu, ....
(4) Menurut Koentjaraningrat (1983:9) “Nilai gotong royong sering juga
menghambat karena menimbulkan gagasan bahwa kemajuan warga komunitas
juga harus sama dan merata. “Ma-syarakat desa ....
b. Kutipan berbahasa asing atau daerah yang terdiri paling banyak tiga baris
disajikan di dalam teks laporan, seperti menyajikan kalimat langsung, dengan
huruf miring, dan diapit dengan tanda petik ganda. Jarak antarbaris pernyataan
kutipan sama dengan jarak antarbaris laporan. Antara huruf pertama dan terakhir
tuturan kutipan dan tanda petik ganda tidak diikuti spasi.
Misalnya:
(1) Bloomfield (1969:161) menyatakan, “A linguistic form which bears no
pertial phonetic-semantic resembelance to any other form, is a simple
form or morpheme.”....
(2) Sehubungan dengan masalah kata, Lyon (1969:194) mengemukakan. “The
word is the unit par excellence of traditional grammatical theory.” Hal
yang senada dikemukakan oleh ....
(3) Hierarki masyarakat Minangkabau, menurut Dhofier (1982-81) adalah,
“Kemenakan beraja ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu
beraja ke nan benar, nan benar berdiri sendiri. Jadi, ....
c. Kutipan, baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa asing atau
daerah, yang lebih dari tiga baris, dikeluarkan dari teks laporan, kemudian
disajikan agak menjorok ke tengah dari pias kiri teks laporan (kira-kira sepuluh
ketukan) dan dari pias kanan (kira-kira lima ketukan). Jarak antar baris teks
kutipan itu adalah satu spasi (spasi rapat) dan teks kutipan itu tidak diapit dengan
tanda petik ganda.
Misalnya:
(1) Dalam hubungan itu, Norbeck (1962:73-85) mengemukakan bahwa
Asosiasi suka rela berpengaruh terhadap semakin menurunnya kadar
kepentingan kelompok-kelompok yang berdasarkan kekerabatan dan
semakin besarnya impersonalitas dalam hubungan antarpribadi dan
menjadi pengganti bagi ikatan-ikatan kekerabatan dan pribadi dalam
mempertahankan solidaritas sosial. (Terjemahan penulis)
(2) Dalam karangan berbahasa Sunda gubahan R.H. Abdussalam (1957:14)
terdapat dangding dalam pupuh kinanti yang mengandung kata-kata pinjaman
dari bahasa Jawa, yakni:
Rengganis bendera mami,
gelepung pilis wadarna,
sesulung kang medal enjing,
setahun mangsa lipura,
Yen durung aliliron sih.
(3) Pendapat yang senada dengan Reiching itu adalah pendapat Uhlenbeck
(dalam Kaseng, 1975:15) yang mengemukakan sebagai berikut,
The facts force us to the
opinion that the morpheme,
in contradiction to the word,
is not a linguistic unti,
it’s meely a moment in a word.
Selain kutipan, di dalam karya ilmiah sering pula dipakai catatan dan rujukan
yang mempunyai aturan tertentu pula.
Pemakaian Catatan dan Rujukan
a. Catatan
Catatan, yang lazim disebut catatan kaki (footnote). Dalam karya tulis ilmiah tidak
disajikan di bawah teks laporan, tetapi dikumpulkan dan didaftarkan (dinomori dengan
angka Arab), kemudian di sajikan sebelum daftar pustaka. Lembar / halaman yang berisi
daftar catatan itu diberi judul CATATAN (dengan huruf kapital semua) dan jarak
antarbarisnya adalah satu spasi (spasi rapat).
Teks karangan yang mendapat catatan (seperti telah dikemukakan) harus
dinomori secara berurut dengan angka Arab. Nomor urut catatan itu diketik satu spasi di
atas baris teks karangan. Pada teks karangan yang berakhir dengan tanda baca koma,
tanda titik, tanda seru, dan tanda tanya, nomor catatan itu diketik satu spasi di atas teks
tersebut sesudah tanda baca itu. Jika yang mendapat catatan itu berada di tengah-tengah
teks karangan, nomor urut catatan itu secara langsung diketik satu spasi di atas huruf
terakhir unsur pernyataan teks karangan itu. Misalnya:
(1) Krietman (1981:11) menemukan ciri-ciri kelompok orang yang melakukan
percobaan bunuh diri, yang salah satu di antaranya adalah broken home pada masa
kanak-kanak1
(2) Pada tahun 1977 jumlah arus wisatawan dilaporkan menjadi sebanyak 245 juta
kunjungan dengan pendapatan sejumlah 50 milyar dolar Amerika2
(3) Saad (1978:421) menyatakan bahwa bila karangan-karangan ilmiah kita mulai
cenderung memakai ragam resmi3, kutipan yang saya sajikan dalam kertas kerja ini
tidak mengarah ke situ.
(4) Di dalam karya sastra terhimpun perbendaharaan kata yang luas. Misalnya, dalam
puisi dan prosa Jawa terdapat kata-kata Jawa Kuno yang disebut tembang Kawi.4
(5) Selanjtunya, Kerri juga mengemukakan bahwa asosiasi suka rela5 merupakan salah
satu bentuk kelompok persamaan minat yang tentu saja bercirikan adanya
persamaan minat dan keanggotaannya bersifat suka rela.
(6) ... Dengan demikian, kita dapat menemukan adanya kata kompleks atau bermoferm
jamak6 dan kata /kaTo/ disebut kata tunggal.
(7) Cita-cita merupakan suatu lampu sorot untuk melihat apa yang ada sekarang; Anda
harus menutup sengang itu atau celah-celahnya7 dan Anda tidak dapat hidup
dengan pertentangan-pertentangan yang Anda hadapi.
Contoh Rangkuman Catatan
CATATAN
1. Neumeyer (1955) memberikan batasan broken home dalam arti yang luas, yaitu
disorganisasi keluarga, yakni pecahnya kesatuan, konsensus, dan fungsi normal
unit keluarga; dalam arti yang sempit suatu disorganisasi keluarga adalah apabila
hubungan pernikahan diperberat dengan separasi, perceraian, dosersi, kematian,
atau absen yang lama dari salah saru orang tua.
2. Saya berterima kasih kepada Sdr. Drs. Sapardi Fjoko Damono yang telah bersedia
melakukan transformasi dari sebuah berita menjadi sebuah cerita untuk keperluan
kertas kerja ini.
3. Tulisan ini lebih ingin memilih istilah langgam resmi. Ini ada kaitannya dengan
pengkajian sastra yang menggunakan istilah ragam untuk ragam prosa, ragam
puisi, ragam drama (trikotomi).
4. Betapa kayanya persajakan dalam mantra, pujian, dan sawer dapat dilihat dalam
YUS Rusyana (1970:13 – 26), Bagbagan Puisi Mantra Sunda, Proyek Penelitian
Pantun Folklore Sunda, Bandung, Bagbagan Puisi Pujian Sunda (1971 ; 13 – 20).
5. Asosiasi suka rela (voluntary assosiation) adalah setiap kelompok pribadi yang
diorganisasi secara suka rela dan agak formal serta dimasukkan dan dipertahankan
oleh anggota-anggota yang mempunyai persamaan minat melalui kegiatankegiatan
tanpa bayaran.
6. Morferm itu oleh Uhlenbeck disebut monomorfemis word.
7. Pernyataan itu disadur oleh penulis, dengan beberapa perubahan kecil, dari
Richard Beckhard (1966)
b. Rujukan
Bahan rujukan adalah bahan kepustakaan yang secara langsung digunakan
sebagai sumber acuan, sumber kutipan, atau sumber informasi tambahan mengenai
masalah yang sedang dibahas.
Rujukan disajikan di dalam teks dengan mencantumkan nama penulis yang
dirujuk dan tahun terbit bahan rujukan dengan dua tanda kurung; antara nama penulis dan
tahun terbit dipisahkan dangan tanda koma. Apabila halaman tertentu dirujuk, nomor
halaman itu dicantumkan seluruhnya; antara halaman pertama dan halaman terakhir yang
dirujuk dipisahkan dengan dua buah tanda hubung atau dengan sebuah tanda pisah.
Misalnya:
(1) Menurut Bintoro (1977), partisipasi masyarakat, antara lain, adalah
keterlibatannya di dalam memikul beban dan pelaksanaan suatu kegiatan.
(2) Suatu sistem religi dapat dianalisis ke dalam empat koponen dasar yang
mempunyai hubungan korelasi erat sekali satu dengan yang lain
(Koentjoroningrat, 1967).
(3) Selain kesenian rakyat tradisional seperti lenong (Probonegoro, 1975), ropeng
(Muhadjir dan Halim, 1972), serta hikayat (Muhadjir, 1971:6), kini berbagai surat
kabar mingguan ibu kota secara teratur memuat juga berbagai berita pendek dan
cerita bersambung yang sebagian mempergunakan dialek Jakarta sebagai
medianya.
BAB VII
INTI PENELITIAN
(judul tergantung masalah)
Bab ini:
- Menggambarkan situasi dan kondisi saat penelitian dilakukan sehingga
ditemukan masalah pada sistem yang lama tersebut.
- Pengembangan isi dapat diperoleh dari pengamatan, laporan, dan data dari
objek yang diteliti tersebut.
Di dalam bab ini diuraikan secara garis besar kerangka analisis objek yang diteliti.
Bab ini terdiri dari beberapa sub-bab dengan judul, uraian, dan alat bantu (diagram, chart,
blok, skema) sesuai dengan masalah yang dibahas. Format dan kerangka bab ini
menekankan pada inti permasalahan yang ada pada objek yang diteliti.
Beberapa contoh kerangka inti penelitian sebagai berikut:
A. Contoh perumusan objek penelitian survei atau populasi dan sampel.
BAB 3
PERUMUSAN OBJEK PENELITIAN
3.1 Struktur Organisasi Perusahaan
3.2 Prosedur yang Berlaku
3.3 Metode Pengumpulan Data (opsional)
3.4 Permasalahan yang ada
B. Contoh yang mengarah ke rancang bangun, baik hardware, software,
maupun aplikasi lainnya.
BAB 3
PERANCANGAN SISTEM
3.1 Perancangan Perangkat Keras
3.1.1. Diagram blok sistem
3.1.2. Model sistem dan cara kerja
3.2. Perancangan Piranti Lunak
3.2.1. Diagram Alir Program Utama
3.2.2. Model sistem dan cara kerja
3.3. Rancangan Bangun
(Sketsa dan dimensi sistem)
C. Contoh yang mengarah ke analisis dan perancangan sistem informasi.
BAB 3
ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN
3.1. Riwayat Perusahaan
3.1.1. Tahun berdiri, notaris, nomor akata, alamat, bidang usaha.
3.2. Struktur organisasi perusahaan, pembagian tugas, tanggung jawab dan
wewenang antarbagian.
3.3. Tata laksana / prosedur yang sedang berjalan.
3.4. Diagaram Aliran Data.
3.4.1. Diagram hubungan Sistem Informasi
3.4.2. Diagram nol
3.5. Permasalahan yang dihadapi.
3.6. Alternatif pemecahan masalah.
BAB VIII
HASIL PENELITIAN
(judul tergantung masalah)
Bab ini berisi:
1. pembahasan yang merupakan jawban atau solusi dari permasalahan yang
diuraikan pada inti penelitian (bab sebelumnya).
2. pembahasan yang berupa analisis.
3. merupakan titik pusat / inti karya tulis.
4. terdiri dari beberapa sub bab dengan judul, uraian, dan alat bantu (diagram, chart,
block schema) yang sesuai dengan masalah yang dibahas.
5. semua data diolah, ditafsirkan, diuji, dan semua fakta yang membantu kejelasan
masalah dapat menguatkan atau bahkan menolak hipotesis akan dibahas secara
mendalam.
6. semua teori, peraturan, pendapat, serta keadaan yang mempengaruhi masalah
yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya (inti penelitian) diikutsertakan
dalam perubahan pemecahan masalah ini.
Beberapa contoh kerangka bab yang menguraikan hasil penelitian sebagai berikut.
A. Contoh kerangka hasil penelitian perumusan objek penelitian survei atau
populasi dan sampel.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Penyajian Data Penelitian
4.2. Pengolahan Data Terkumpul
4.3. Pembahasan Hasil Penelitian
B. Contoh kerangka hasil penelitian yang mengarah ke rancang bangun, baik
perangkat keras, perangkat lunak, maupun aplikasi lainnya.
BAB 4
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
4.1. Spesifikasi Alat yang Dirancang
4.2. Daftar Komponen yang Dipakai
4.3. Rencana Implementasi
4.4. Evaluasi
C. Contoh kerangka hasil penelitian yang mengarah ke analisis dan perancangan
sistem informasi.
BAB 4
RANCANGAN SISTEM YANG DIUSULKAN
4.1. Usulan Prosedur Baru
4.2. Diagram Aliran Data
4.2.1. Diagram Hubungan
4.2.2. Diagram Nol
4.2.3. Diagram rinci
4.3. Data Sistem
4.3.1. Kamus Data (Aliran Data, Penyimpanan Data)
4.3.2. Normalisasi Data
4.3.3. Spesifikasi File Data
4.3.4. Diagram Hubungan Entitas
4.4. Perancangan Proses
4.4.1. Bagan Terstruktur
4.4.2. Spesifikasi Proses
4.5. Perancangan Masukan (Dokumentasi/formulir baru, layar masukan)
4.6. Perancangan Keluaran (laporan/layar keluaran)
4.7. Perencanaan Implementasi
4.7.1. Tata Laksana Sistem yang Diusulkan (kebutuhan perangkat keras,
lunak, SDM, jadwal pengolahan)
4.7.2. Jadwal Implementasi Sistem
Penyajian Data atau Hasil
1. Hasil merupakan inti tulisan ilmiah, karena data dan informasi yang ditemukan
penulis/peneliti akan dipakai sebagai sumber dasar penyimpulan atau bahkan
penyusunan teori baru.
2. Sajikan hasil penelitian sewajarnya secara bersistem, yang terbagi atas 3 tahapan:
a. Uraian temuan data/informasi yang terkumpul
b. Uraian analisis sesuai dengan rancangan penelitian.
c. Penafsiran serta penjelasan sistematisnya
Sajikan hasil ini dalam anak sistematisnya
3. Laporkan data representatif (jangan repetitif).
4. Rangkum hasil pengamatan atau wawancara lengkap dengan data pendukung
(foto, dokumen) secara obyektif.
5. Batasi data yang disajikan seperti yang telah diuraikan pada pendahuluan.
6. Pergunakan tabel, grafik, gambar, foto dan peta untuk memperjelas dan
mempersingkat uraian.
I. TABEL
Menerangkan data secara efisien
Bagian utama tabel:
1. Nomor tabel dan judulnya
2. Bab-bab yang perlu diterangkan data
3. Data
• Tabel yang baik bernilai ratusan
• Ukuran tabel jangan melebihi ukuran kertas
• Usahakan tabel tidak disambung pada halaman selanjutnya. Seandainya terjadi,
pada halaman berikutnya judul serta keterangan kolom harus disertakan lagi.
• Jika tabel merupakan kutipan, harus disebutkan sumbernya pada akhir tabel.
• Tiap tabel harus ada rujukannya di dalam naskah dengan cukup menyebutkan
nomor tabelnya saja.
• Untuk pengiriman naskah ke redaksi majalah, tabel supaya diketik pada lembar
tersendiri dengan kertas kalkir. Naskahnya diberi tanda di mana tabel terletak.
Judul Tabel
Letak judul tabel di atas tabel. Jika tabel itu bersambung, judul tabelnya harus
tetap dipakai (dicantumkan) pada sambungannya (lanjutannya) dan dicantumkan kata
SAMBUNGAN / LANJUTAN. Hindarkan pemakaian nomor urut di bawah kotak
keterangan tabel. Misalnya:
TABEL 1
NILAI RATA-RATA MATEMATIKA MAHASISWA DI TIAP FAKULTAS
No. Propinsi Nilai Rata - Rata Jumlah Responden
TABEL 1
NILAI RATA-RATA MATEMATIKA MAHASISWA DI TIAP FAKULTAS
(SAMBUNGAN)
No. Propinsi Nilai Rata - Rata Jumlah Responden
TABEL 1
NILAI RATA-RATA MATEMATIKA MAHASISWA DI TIAP FAKULTAS
(LANJUTAN)
No. Propinsi Nilai Rata - Rata Jumlah Responden
2. BAGAN
Bagan terdiri dari:
• Judul kegiatan, posisi jabatan
• Pembagiannya unsur / entitas tersebut dalam suatu sistem
Judul Bagan
(Letaknya dibawah bagan)
BAGAN I. RAGAM BAHASA MENURUT SARANANYA
3. GAMBAR (foto, ilustrasi tangan, keluaran komputer)
Judul Gambar
(letaknya di bawah gambar)
Misalnya:
*********************
Gambar 1.
KAMPUS ANGGREK UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
4. GRAFIK
1.Diagram dibuat dengan hati-hati
Skala dibuat dengan hati-hati.
Garis grafik haris berbeda dan terang
2.Diagram blok (block diagram)
Untuk menggambarkan variable pada suatu massa, atau pada kondisi yang berbeda.
3.Diagram pie
Menggambarkan suatu bagian dari keseluruhan.
Ragam Bahasa
Ragam Bahasa Lisan
Ragam Bahasa Tulis
Judul Diagram atau Grafik
(Letaknya di bawah gambar)Misalnya:
GRAFIK JUMLAH KASUS PEGAWAI GOLONGAN III DAN II
DI DEPARTEMEN PENIMBUNAN BATA, 1987-1989
PETA
• Diberi skala
• Ada indikator mata angin
Judul Peta
• Letaknya di bawah peta
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berupa pernyataan keputusan yang berpangkal pada kenyataan yang dikemukakan pada
inti penelitian (masalah) dan hasil penelitian (cara mengatasi masalah).
Oleh karenanya simpulan harus mempunyai kaitan dengan kenyataan yang diungkapkan.
Contoh:
Kenyataan 1
Desa A bertanah tandus. Usaha pertanian tidak dapat diharapkan. Penduduk yang
menjadi petani di desa A kekurangan gizi.
Kenyataan 2
Penduduk desa A yang bekerja sebagai buruh di kota mempunyai penghasilan yang
lebih tinggi daripada penduduk yang bertani. Penduduk yang bekerja sebagai buruh
taraf gizinya lebih baik.
Simpulan:
1. Petani Desa A kekurangan gizi.
2. Buruh desa A bergizi lebih baik.
3. Taraf gizi penduduk Desa A tidak ditentukan oleh keadaan, tanah, tetapi oleh
tingkat penghasilannya.
B. Saran
Berisi garis besar acuan yang merupakan tindakan yang perlu diambil untuk tindak lanjut
yang lebih baik dari hasil pemecahan masalah.
Contoh
Berdasarkan kenyataan 1 dan kenyataan 2 di atas dapat dikemukakan saran sebagai
berikut:
1. Usaha pemakaian lahan untuk mengubah tanah tandus di desa A menjadi lahan
yang bisa ditanami.
2. Mencari jenis tanaman (palawija, sayuran) yang cocok untuk tanah tandus.
3. Membekali pertanian dengan ketrampilan lain seperti industri rumah tangga dan
teknologi tepat guna supaya petani dapat memanfaatkan masa senggangnya secara
lebih efektif dan efisien;
4. dsb.
Keterangan:
Semua uraian penelitian (masalah), hasil penelitian (pemecahan masalah), kesimpulan,
dan saran ditulis dengan format uraian ke bawah tidak dengan kalimat berurut didalam
satu paragraf kecuali apabila itemnya memang hanya satu. Di dalam karya ilmiah uraian
ini menunjukkan jalan pikiran yang jelas, cermat, dan sistematis di samping
mempermudah pembaca ataupun dosen pembimbing dan penguji untuk memahami
paragraf tersebut.
BAB IX
PUSTAKA ACUAN DAN BIBLIOGRAFI
Untuk mempersiapkan bahan dari suatu karya ilmiah biasanya banyak digunakan
sumber bacaan (pustaka acuan) terutama yang berhubungan dengan karya ilmiah yang
akan ditulis.
Bibliografi (daftar pustaka) berguna untuk mendaftar semua sumber bacaan yang
digunakan. Melalui bibliografi ini pembaca dapat mengetahui sumber apa saja yang
digunakan tanpa membaca seluruh tulisan terlebih dahulu. Berdasarkan bibliografi
tersebut pembaca yang berpengalaman akan dapat mengira mutu pembahasan suatu
tulisan, karena tujuan utama dari bibliografi adalah untuk mengidentifikasikan karya
ilmiah tersebut.
Di dalam menuliskan setiap sumber bacaan, unsur-unsur yang harus dicantumkan
adalah:
1. Pengarang
Pengarang adalah orang atau badan korporasi (nana lambaga). Pengarang menerangkan
sumbangan seseorang atau suatu badan korporasi pada isi kecendekiawanan atau
kesenian suatu karya, misalnya pengarang teks, perediksi, penggambar, dan pengoreksi.
Jika dalam suatu terbitan terdapat sebanyak-banyaknya tiga pengarang, maka semuanya
dicantumkan dalam pernyataan kepengarangan. Jika lebih dari tiga maka yang disalin
adalah pengarang pertama atau pengarang yang dianggap paling penting dan diikuti
dengan tanda et al.
2. Judul karangan
Judul ditulis seperti yang tercatnum pada halaman judul, kata demi kata. Suatu dokumen
dapat memiliki judul biasa atau dapat juga judul pararel (terjemahan dari judul biasa),
judul tambahan atau keterangan dari judul. Bila suatu dokumen memiliki beberapa judul,
maka perlu ditentukan mana yang judul biasa, judul pararel, dan judul tambahan.
Pola tanda baca dalam penulisan judul adalah:
• Judul pararel didahului dengan tanda sama dengan (=)
• Judul tambahan atau keterangan judul didahului dengan tanda titik dua (:)
Impresium dan kolasi
Impresium terdiri dari kota di mana publikasi diterbitkan atau dicetak, nama penerbit,
nama percetakan, atau nama pencetak, dan nama tahun terbit atau tahun pencetakan.
Kolasi terdiri dari jumlah halaman atau jumlah jilid, dan keterangan lain jika ada dan
diperlukan. Cara penulisan impresium dan kolasi untuk setiap bentuk dokumen berbedabeda.
Untuk penulisan dalam:
• Artikel majalah
Dicantumkan judul majalah, volume, nomor, tahun, dan halaman.
• Makalah konferensi
Dicantumkan judul keferensi lokasi diadakannya konferensi, waktu (tanggal,
bulan, tahun) diadakannya, kemudian diikuti jumlah halaman makalah.
• Terbitan lain seperti buku, tesis, disertasi, dll.
Dicantumkan tempat terbit, penerbit, tahun terbit, jumlah halaman, dan
keterangan lain jika ada dan diperlukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun bibliografi, yaitu:
1. Biblografi tidak diberi nomor urut;
2. Nama penulis disusun menurut abjad;
3. Gelar penulis tidak dicantumkan walaupun dalam buku yang dikutip penulis
mencantumkan gelar;
4. Judul buku dan majalah biasanya dicetal dengan huruf miring;
5. Bibliografi diletakkan pada bagian terakhir dari tulisan.
Penyusunan Daftar Pustaka
Salah satu ciri yang mendukung karya tulis ilmiah adalah kejujuran ilmiah dalam
bentuk pernyataan tentang hasil penelitian orang lain yang disajikan dalam bentuk bahan
pustaka. Bahan pustaka itu kemudian dirangkum dalam bentuk daftar pustaka.
Daftar pustaka pada dasarnya berfungsi sebagai dokumentasi bahan kepustakaan,
baik yang secara langsung dipakai maupun yang tidak dipakai sebagai bahan rujukan,
tetapi berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas di dalam karya tulis yang
bersangkutan.
Daftar pustaka disusun dengan urutan dan penyajian sebagai berikut:
a. nama pengarang,
b. tahun terbit,
c. judul karya tulis beserta keterangannya,
d. tempat terbit, dan
e. nama penerbit.
Penyajiannya adalah sebagai berikut:
a. Setiap unsur kepustakaan diikuti dengan tanda titik, kecuali unsur tempat terbit;
unsur tempat terbit diikuti oleh tandan titik dua; setelah pemakaian tanda titik dan
titik dua, unsur-unsur itu diikuti oleh spasi.
b. Setiap huruf pertama unsur kepustakaan itu dinyatakan dengan huruf kapital,
keculai kata tugas.
c. Urutan nama penulis yang terdiri dari unsur atau lebih, baik yang tidak
mengandung nama marga maupun yang mengandung nama marga, seperti nama
marga lingkungan etnik Batak, Manado, dan Ambon, dibalik; unsur nama yang
terakhir atau nama marga disajikan terlebih dahulu dengan pisahkan oleh tanda
koma dan spasi.
d. Nama marga penulis Cina terletak pada unsur pertama. Oleh karena itu, nama
marga penulis Cina tidak dibalik.
e. Di dalam pustaka nama penulis disajikan secara alfabet dan tidak dinomori.
Misalnya;
Jiyono �� Jiyono (tetap)
Maurits Simatupang �� Simatupang, Maurits
Amran Halim �� Halim, Amran
Elly Silangen Sumampau �� Sumampau, Elly Silangen
E. K. M. Masinambow �� Masinambow, E.K.M.
Iskandar Agung �� Agung, Iskandar
Li, Charles �� Li, Charles
Penulis karya ilmiah (buku, artikel, atau makalah) terdiri dari
1) seorang penulis �� satu karya tulis;
2) dua orang penulis atau lebih �� satu karya tulis;
3) satu penulis atau lebih �� satu karya tulis atau lebih;
4) lembaga atau instansi sebagai penulis.
a. Seorang Penulis �� Satu Karya Tulis
Ketentuan penyajian sebuah karya tulis (seperti makalah, artikel, atau kertas
kerja) yang disusun oleh seorang penulis adalah sebagai berikut:
(a) Jika karya tulis itu sudah diterbitkan dan dimuat dalam majalah/jurnal/atau buku,
judul karya tulis itu disajikan dengan diapit oleh tanda petik ganda; nama
majalah/jurnal yang memuat karya tulis tersebut disajikan dengan huruf miring
(kursif).
(b) Jika karya tulis itu terdapat pada kumpulan buku yang sudah diterbitkan, dan
buku itu dieditori oleh seorang atau lebih editor, karya tulis itu harus diapit oleh
tanda petik ganda, nama buku yang memuatnya disajikan dengan huruf miring
(kursif), nama editornya (baik seorang maupun lebih, terdiri dari satu unsur nama
ataupun lebih) tidak dibalik urutan unsur namanya.
Misalnya:
(1) Hymes, Dell. 1972. :”Towrd Ethomographies of Communication: The
Analysis of Communicative Events”. Dalam Pier Paolo
Gigloioli. Editor. Language and Social Contaxt. London:
Penguin Books.
(2) Hymes, Dell. 1972. “Models of Interaction of Language and Social
Life”. Dalam J.J. Gumperz D. Hymes. Editor. Direction in
Socioligguitics: The Ethnography of Communication. New
York: Holt Rinehart Winston.
Misalnya:
(1) Arifin, Zaenal dkk. 1984. “Sintaksis Bahasa Indonesia di TVRI”.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
(2) I, Cheng Chi dkk. 1981. “Kematian Ibu pada Dua Belas Rumah Sakit
di Indonesia: Sebuah Analisis Epidemilogi. Majalah Obstetri dan
Ginekologi Indonesia. Vol. 7. No. 4. Oktober.
(3) Evans, Larry etal. 1992. Complete illustration guide for architecture,
designers, artist, and students. New York: Van Nostrand
Reinhold.
c. Satu Penulis atau Lebih – Satu Karya atau Lebih
Sebuah karya tulis atau lebih yang disusun oleh seorang penulis atau lebih
disajikan dalam daftar pustaka sebagai berikut.
(1) Nama penulis yang disajikan hanyalah nama penulis pada buku atau majalah yang
pertama dengan urutan tahun yang kronologis.
(2) Nam penulis selanjutnya dinyatakan dengan garis mendatara sepanjang sepuluh
spasi (satu tab).
(3) Jika beberapa karya tulis diterbitkan dalam tahun yang sama, angka yang
menunjukkan tahun yang sama itu diiringi dengan huruf a, b, c, dan seterusnya,
sesuai dengan jumlah karya tulis yang diterbitkan dalam tahun yang sama itu.
Misalnya:
(1) Lumintaintang, Yayah B. 1980. Pola Kalimat Ragam Bahasa Indonesia Tulis
Fungsional. Jakarta: Pusat Pembianaan dan Pengembangan Bahasa.
--------------- . 1989. “Bahasa dalam Lirik Lagu Indonesia Populer”. Dalam Bahasa
dan Sastra. Tahun IX. No. 3.
___________ . 1990. “ Bahasa dalam Film Kependudukan yang Multilingual: Kasus
Film Indonesia”. Dalam Bahasa dan Sastra. Tahun X. No. 3
___________ . 1991. “Permasalahan Kebahasaan di dalam Bahasa Indonesia
Jurnalistik:. Dalam Bahasa dan Sastra. Tahun XI. No. 3.
___________ . 1993. “Laras Bahasa Hukum”. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
(2) Labov; William. 1968. “The Reflection of Social Processes in Linguistics
Structures”. Dalam J.A. Fishman. Editor. Reading in the Sociology of
Language. The Hague: Mounton.
------------- . 1972. “The Study of Language in its Social Context”. Dalam J.B.
Pride dan J. Holmes. Editor. Sociolinguistics. London: Penguin.
(3) Nababan, P.W.J. et al. 1984a. “Laporan Penelitian Survei Kedwibahasaan di
Indonesia”. Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa.
------------ . 1984b. “Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Suara Komunikasi
Rakyat”. Makalah pada Kongres Bahasa Indonesia IV. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
d. Lembaga sebagai Penulis
Di samping contoh-contoh di atas, terdapat pula terbitan yang diolah suatu
instansi atau lembaga. Dalam hal ini nama instansi atau lembaga itu dianggap sebagai
penulisnya. Nama lembaga atau instansi itu ditulis sepenuhnya seperti adanya, tanpa
dibalik susunannya.
Misalnya:
(1) Lembaga Penelitian dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. 1974. Pre Feasibility
Study Pengembangan Potensi Ekonomi Madura, Jakarta: LP3ES.
(2) Departemen Kesehatan, Direktorat Bina Gizi Masyarakat, 1986. Proyek Makanan
Pendamping ASI: Laporan Pelaksanaan Kegiatan Etnografi Propinsi
Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Kesehatan.
(3) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1993. Pedoman Ejaan yang
Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.
Latihan
Buatlah Daftar Bibliografi dari informasi berikut ini
1. Pengarang: Justina C. Roy
Judul artikel: Temporal variation of predation on rodents and shrews by small
African frest carnivors.
Judul jurnal: Journal of Zoology
Volume: 244 Part 3
Bulan, tahun terbit: March 1998
Halaman: 363 – 370
2. Pengarang: Jeremy W. Dale
Judul buku: Molecular genetics of bacteria
Edisi: 4 th edition
Kota Terbit: New York
Penerbit: John Wiley
Tahun Terbit: 1996
3. Pengarang: James Wilson
Richard J. Gelles
Judul buku: Current controversies on family violence: case studies in West America
Kota Terbit: Ontario
Penerbit: Oxford University Press
Tahun Terbit: 1995
4. Pengarang: C. Edward Bodington
Judul buku: Planning, scheduling and control integration in the process industries.
Edisi: Pertama
Kota Terbit: New York
Penerbit: MCGraw Hill Book Company
Tahun Terbit: 1995
5. Pengarang: Broks J. Heckert
James D. Wilson
Judul: Controllership: The work of managerial accountant
Kota terbit: London
Penerbit: The Ronald Press Company
Tahun terbit: 1996
BAB X
ABSTRAK (SARI KARANGAN)
Definisi
Ada dua definisi abstrak yang perlu diketahui yaitu:
1. Menurut American National Standar institute’s (1979)
Abstrak adalah pernyataan secara singkat tetapi akurat dari isi dokumen tanpa
menambah tafsiran atau kritik dan tanpa membedakan untuk siapa abstrak tersebut
dibuat.
2. Menurut International Standard Organization (ISO 214 – 1976)
Abstrak ialah uraian singkat tetapi akurat yang mewakili isi dokumen, tanpa
menambah interpretasi atau kritik dan tanpa melihat siapa pembuat abstrak tersebut.
Abstrak itu sendiri tergolong dalam macam informasi sekunder, sebagai lawan dari
informasi primer, yaitu dokumen lengkap bersangkutan. Dengan demikian sebuah abstrak
hanya menunjuk (to refer) kepada suatu informasi primer (yaitu informasi yang memuat
keterangan selengkapnya) serta tidak langsung menyajikan informasi lengkapnya kepada
pembaca. Pembaca hanya diberitahukan tentang adanya suatu informasi primer, jadi
pembaca masih harus melakukan beberapa usaha lagi agar dapat memperoleh informasi
primer yang bersangkutan. Jasa / kegiatan informasi dan dokumentasi timbul di samping
jasa perpustakaan, antara lain karena meningkatnya jumlah majalah ilmiah yang terbit,
lebih-lebih dalam bidang IPTEK; peningkatan/peledakan publikasi inilah antara lain yang
menjadi salah satu sebab para ilmuwan dan teknolog merasa kewalahan untuk dapat terus
mengikuti perkembangan ilmunya melalui artikel-artikel yang semakin banyak terbit
dalam majalah. Tidak sedikit mengatasi keadaan ini, lahirlah dalam dunia
informasi/dokumentasi apa yang dikenal sebagai jasa pembuatan abstrak (abstrating
service), misalnya dalam bentuk penerbitan majalah-majalah abstrak seperti Chemical
abstracts, Science abstracts, Biological abstracts, dan lain-lain. Dengan jasa pembuatan
abstrak tersebut para ilmuwan dan teknolog memperoleh banyak informasi dengan hanya
memakan waktu yang relatif sedikit.
Jenis abstrak
Abstrak dibedakan menurut beberapa jenis sesuai dengan tujuan atau manfaatnya.
Diantara banyak jenis, ada dua jenis yang lazim digunakan yaitu:
1. Abstrak indikatif (Indicative abstracts)
Abstrak ini menguraikan secara singkat masalah yang terkandung, dalam
dokumen lengkapnya. Abstrak ini dibuat tidak untuk memadatkan ini dari satu tulisan
agar lebih cepat diketahui isinya, tetapi hanya memberikan indikasi sasaran dan cakupan
dari tulisan, sehingga pembaca dapat mempertimbangkan apakah tulisan asli perlu.
Contoh:
Interperetasi kualitas udara dengan pengukuran kualitas air hujan: laporan penelitian.
ARIFIN, BASTIAN et al.
Banda Aceh: Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, 1990, 27 hal
Telah diteliti kualitas udara Banda Aceh dan sekitarnya terutama kualitas gas SO2,
N2O3, partikel debu, dan garam-garam yang terdapat di udara. Sampel diambil dengan
menampung air hujan langsung dari udara, kemudian diukur konduktivitas, pH, dan total
padatannya (AB).
2. Abstrak informatif (Informative abstracts)
Merupakan miniatur dari dokumen dengan menampilkan sebanyak mungkin data
kualitatif dan kuantitatif, sehingga pembaca tidak perlu lagi membaca dokumen aslinya,
kecuali ingin mendalaminya.
Abstrak informatif dari laporan penelitian biasanya memuat:
a. Tujuan
Tujuan utama dan jangkauan studi atau alasan mengapa dokumen tersebut ditulis perlu
dikemukakan, kecuali jika sudah jelas dari judul dokumen.
b. Metodologi
Perlu diuraikan secara ringkas cara kerja untuk mencapai tujuan penelitian. Digambarkan
secara umum teknik serta pendekatannya, namun demikian untuk teknik baru perlu
diuraikan secara jelas. Prinsip metodologi dasar, jangkauan operasi serta cara
memperoleh data secara tepat perlu pula dijelaskan. Untuk dokumen yang ditulis tanpa
penelitian, perlu dikemukakan sumber data da ncara pengumpulan data.
c. Hasil
Menggambarkan penemuan sesingkat dan seinformatif mungkin. Penemuan tersebut
dapat berupa hasil penelitian atau teoritis, kumpulan data, hubungan dan korelasi yang
dicatat, pengaruh yang diteliti, dan sebagainya. Jelaskan apakah nilai-nilai yang
ditemukan berupa angka tersebut diperoleh langsung dari pengamatan atau diturunkan
bagi pengamatan lain.
Bila hasil penelitian terlalu banyak, makan prioritas utama yang dikemukakan adalah
hasil penelitian atau pengujian baru, penemuan yang penting, penemuan yang
mempunyai nilai dalam jangka waktu lama, penemuan yang bertentangan dengan teori
baik pada saat penelitian dilakukan maupun penelitian sebelumnya, penemuan yang
bertentangan dengan teori baik pada saat penelitian dilakukan maupun penelitian
sebelumnya, penemuan yang dianggap relevan dengan masalah praktis.
d. Kesimpulan
Gambarkan kesimpulan dari hasil, khususnya yang berkaitan dengan tujuan penelitan
atau tujaun penulisan dokumen, walaupun kadang-kadang sulit membedakan antara hasil
dan kesimpulan. Kesimpulan dan hasil dapat digabung bersama untuk memperingkas.
Kesimpulan dapat diikuti dengan rekomendasi, evaluasi, penerapan, saran dan hipotesis
yang diterima atau tidak.
Sebagian besar karya eksperimen dapat dianalisi menurut unsur-unsur tersebut, tetapi
urutannya tergantung pemakai yang menjadi sasaran utamanya.
Contoh:
Interpretasi kualitas udara dengan pengukuran kualitas air hujan: laporan penelitian.
ARIFIN BASTIAN et al.
Banda Aceh: Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, 1990, 27 hal.
Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat populasi di Kotamadya Banda Aceh
yang disebabkan oleh gas SO2, N2O3, partikel debu dan garam-garam yang terdapat di
udara. Sampel diambil dengan cara menampung air hujan langsung dari udara, kemudian
diukur daya hantar listrik (konduktivitas), derajat kesamaan (pH), dan total padatannya.
Konduktivitas diukur dengan alat meter electronic GMBH; total pendataan diukur
dengan cara gravimetri menggunakan oven dan timbangan listrik. Data yang diperoleh
dicari harga rata-rata, minimum, dan maksimum. Diperoleh hasil: 1) pH air hujan ratarata
6,60 dengan pH minimum 6,30 dan pH maksimum 6,90; 2) konduktivitas berkisar
antara 10-95 umho/cm dengan rata-rata 43,50 umho/cm; 3) total padataan berkisar antara
12 mg/1-11.153 mg/1 dengan rata-rata 2622 mg/1. Disimpulkan kualitas air hujan dilihat
dari pH-nya cukup baik karena kadar gas SO2 dan N2O3 diudara masih kecil, partikel
debu yang merupakan bahan kimia yang larut dalam air masih rendah, kadar debu di
udara diperkirakan cukup tinggi terutama jika ada kegiatan yang menimbulkan debu
(AB).
Menurut ISO 214 – 1976, panjang abstrak suatu artikel, laporan, makalah atau
bagian dari monogragfi sektiar 250 kata, sedangkan untuk catatan dan komunikasi
pendek sekitar 100 kata. Untuk monografi, tesis, dan disertasi umumnya tidak melebihi
500 kata atau tidak lebih dari satu halaman. Perlu diingat bahwa isi dokumen lebih
penting dari panjang pendeknya abstrak.
Latihan:
Buatlah: 1) abstrak indikatif
2) abstrak informatif
(1) Judul tesis: Pengaruh penayangan iklan televisi terhadap perubahan perilaku dan pola
konsumsi masyarakat: studi kasus di Kotamadya Semarang
Pengarang: Sutopo
Dari: Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro, Semarang
Tahun: 1996
Ketebalan: 40 halaman.
Penelitian dilakukan terhadap masyarakat di kawasan perkotaan di Kotamadya
Semarang maupun kawasan pinggiran di perbatasan dengan Kabupaten Demak. Data
dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner, wawancaram, dan studi literatur.
Responden terdiri 100 orang yang dipilih dengan metode acak berlapis terbatas.
Evaluasi terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat sampel dilakukan dengan
alat analisis uji –t dan chi-square, yang dilakukan pada periode sebelum dan sesudah
banyaknya tayangan iklan media di televisi.
Tujuan penelitian untuk melihat dampak penayangan iklan televisi terhadap
perubahan perilaku dan pola konsumsi masyarakat.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penayangan iklan melalui televisi
cenderung dapat mengubah pola konsumsi masyarakat, baik yang ada di kawasan
perkotaan maupun kawasan pinggiran di sekitarnya. Perubahan pola konsumsi ini
terlihat dari jenis pengeluaran seperti makanan, minuman, sandang/pakaian, dan
peralatan rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara pola dan jumlah pengeluaran sebelum dan sesudah adanya
tanyangan iklan di televisi secara nasional, khusunya pada kelompok masyarakat
yang mengalami kenaikan pendapatan. Jenis pengeluaran lainnya relatif tidak banyak
mengalami perubahan yang berarti. Kajian ini juga menunjukkan bahwa media
televisi merupakan media yang relatif dapat mempengaruhi keinginan konsumen
untuk mencoba mengkonsumsi barang yang diiklankan. Temuan ini mendukung
kajian sebelumnya yang menyatakan bahwa televisi merupakan media yang paling
efektif untuk menyampaikan pesan pada pemirsa, termasuk menyampaikan tayangan
penawaran produk kepada warga masyarakat.
(2) Judul laporan penelitian: Perilaku Seksual anak Buah Kapal (ABK) dalam
Hubungannya dengan penularan Aids. Di pelabuhan
Benoa, Denpasar ,Bali.
Penyusun: I Gde Puja Astawa
Kota Terbit: Denpasar
Nama Instansi: Universitas Udayana
Tahn: 1995
Ketebalan: 27 halaman
Penelitian dilakukan terhadap anak ABK WNI yang dipilih secara sengaja yang
mempunyai waktu berlabuh minimal seminggu. Pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara dan menggunakan kuesioner. Studi pustaka juga dilakukan untuk
memperoleh data dan informasi guna mendukung penelitian.
Data yang terkumpul ditabulasi dan dilakukan uji acak, kemudian dianalisis
dengan uji konsistensi. Pengolahan data menggunakan model regresi berganda
dengan perangkat lunak Inmagic.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemahaman, sikap, dan peri laku seksual
ABK dalam hubungannya dengan penyakit AIDS, jenis gejala penyakit seksual yang
pernah dialami ABK, penanggulangannya, serta pemakaian kondom sebagai upaya
pencegahan penularan penyakit.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa 40 % responden memiliki pengetahuan
yang rendah dan sikap yang negatif terhadap AIDS. Pola perilaku seksual mereka
sangat berisiko tertular penyakit karena seringnya berhubungan (50%) dengan WTS,
dan berganti-ganti pasangan tanpa memakai kondom (31.2%). Alasan tidak memakai
kondom adalah kurang enak, kurang praktis, dan adanya perasaan kurang terancam
untuk tertular penyakit. Ditemukan bahwa sebagian (60%) ABK pernah terinfeksi
penyakit seksual. Kenyataan ini sangat mengkhawatirkan sebab sebagian ABK
ternyata telah menikah. Untuk menanggulangi gejala penyakit yang dialami,
umumnya mereka pergi ke dokter memakai obat antibiotik, seperti supertetra, binotal,
dan ampisilin. Disarankan agar promosi pemakaian kondom dan penyuluhan tentang
AIDS lebih intensif. Aspek keimanan perlu dibina dan segera dilakukan.
(3) Judul laporan: Penelitian Kebutuhan Masyarakat Perkotaan terhadap Pelayanan
Kesehatan Gigi.
Pengarang: Nyoman Anita Damayanti
Kota Terbit: Surabaya
Institusi: Lembaga Penelitain Universitas Airlangga
Tahun: 1995
Halaman: 26 hal, lamp.
Penelitian merupakan penelitian survei dengan pendekatan cross sectional yang
dilasanakan di 3 tipe perumahan di lingkungan Kotamadya Surabaya yaitu di
Kampung Kota daerah Wonorejo (tingkat sosial ekonomi rendah), perumnas Tandes
(tingkat menengah), dan Real Estate Darmahusada (tingkat tinggi). Dipilih 100
responden secara acak proporsional. Teknik pengumpulan data dengan studi
kepustakaan, wawancara, dan kuesioner. Data yang terkumpul ditabulasi dan sebelum
dilakukan analisis lebih lanjut telah dilakukan uji acak (test of randomness) dan uji
konsistensi. Pengolahan data menggunakan model regresi sederhana dengan
perangkat lunak mikrostat.
Tujuan penelitian untuk mengetahui tanggapan masyarakat terhadap kesehatan
gigi dan mulut, prioritas penanganannya, manfaat, kesan dan harapan masyarakat
perkotaan terhadap pelayanan kesehatan gigi, serta manfaat keikutsertaan masyarakat
dalam asuransi kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggapan masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan gigi dan mulut pada umumnya sudah baik namun masih diperlukan
peningkatan pelayanan dan kualitas, serta biaya yang murah. Penanganan penyakit
gigi diprioritaskan pada penyakit gigi yang disertai pembengkakan. Sebagian besar
responden (56%) pergi ke dokter gigi untuk menambal giginya dan 10,6 % datang
untuk memeriksa gigi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat perkotaan sudah
menyadari pentingnya kesehatan gigi. Kesan ketidakpuasan terhadap pelayanan
kesehatan gigi banyak dinyatakan oleh responden yang tinggal di Perumnas. Waktu
pelayanan tercepat (15 menit) di Puskesmas, sedangkan terlama (31 menit) di dokter
swasta. Waktu tunggu tercepat (15 menit) di dokter swasta, sedangkan yang terlama
(31 menit) di Puskesmas. Harapan responden terhadap pelayanan kesehatan gigi
adalah peningkatan kualitas pelayanan yang profesional, waktu pelayanan, dan waktu
tunggu yang singkat. Responden terbanyak yang ikut asuransi adalah yang tinggal di
Perumnas, sedangkan yang tidak ikut adalah di Kampung Kota. Alasan mereka ikut
asuransi adalah fasilitas tempat kerja, sehingga otomatis mereka diikutsertakan
program asuransi tersebut. Responden yang tidak ikut program asuransi mempunyai
alasan biayanya yang terlalu tinggi. Hal ini memperlihatkan bahwa responden belum
menyadari pentingnya peranan asuransi kesehatan dalam menunjang pemeliharaan
kesehatan gigi.
Kata kunci
Kata kunci (keywords) adalah kata-kata penting yang digunakan untuk
mengidentifikasikan isi dokumen. Kata kunci dapat diperoleh dari judul, abstrak, atau
dari teks. Dalam memilih kata kunci, pernyatakan kepada diri sendiri kata apa yang akan
dipakai kalau akan mencari informasi mengenai topik-topik penting dari karangan.
Mencari Kata Kunci
• Kejahatan yang dilakukan anak di bawah umur di Kabupaten Bandung
/Kejahatan anak/
• Pengolahan sampah di Kotamadya Surakarta
/Pengolahan sampah/
• Pengaruh kedatangan wisatawan terhadap penciptaan lapangan kerja dan
pendapatan masyarakat Kuta.
/Wisatawan// Lapangan kerja/ /Pendatapan
• Pertumbuhan dan hasil tanaman melon (Cucumis melo L.) pada pemberian pupuk
nitrogen dan kalium di tanah latosol.
/Melon//Cucumis melo//Pupuk nitrogen/Pupuk kalium
Latihan:
Carilah kata kunci dari judul karya ilmiah berikut ini:
1. Penerapan Sistem Pakar untuk Mendeteksi Polusi Udara di Jakarta
2. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Pengadaan Koleksi Perpustakaan di
Universitas Bina Nusantara.
3. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Internet dalam Menunjang Sistem
Pendidikan di Perguruan Tinggi.
4. Perancangan Sistem Pakar untuk Mendeteksi Penyakit Hepatitis di Jawa Barat.
5. Penerapan dan Monitoring sisem Absensi Berbasis Komputer.
BAB XI
PRESENTASI
Apakah Presentasi?
Suatu produk yang terorganisasi:
• Waktu terbatas
• Ide dan materi yang jelas
• Harus direncanakan dan diorganisasikan
• Untuk itu memerlukan visual aid
Harus direncanakan dan diorganisasikan
• Kapan dimulai
• Kapan topik pembicaraan
• Kapan harus berhenti
• Isi presentasi harus terorganisasi dengan baik sebab:
1. Isi terorganisasi akan mempengaruhi perhatian pendengar
2. Mudah diikuti dan dimengerti
3. Meningkatkan rasa percaya diri presenter
4. Menyakinkan pendengar bahwa presenter mampu mengerjakan apa yang
ia presentasikan
• Penyampaian natural dan logis
• Akan mencapai klimaks yang persuasif
• Dengan kata lain:
5. Saya tahu objektif saya
6. Saya tahu apa yang saya akan katakan
7. Saya tahu apa yang saya akan lakukan
Memerlukan visual aid
• Untuk mempermudah pendengar mengingat
• Untuk meningkatkan kesan dari pendengar
• Untuk menghemat waktu
• Untuk memperjelas dimaksud
• Untuk membantu presentan tetap pada organisasinya
• Untuk membantu pendengar mengikuti secara teratur
• Macam alat bantu:
1. Papan tulis
2. Transparansies, overhead slides
3. Slide projector
4. Datashow
5. Film
6. Komputer graphic
7. Photo berwarna yang dapat diedarkan
8. Infocus
Catatan:
Pada umumnya yang dimuat di slide atau transparansies adalah kata-kata kunci, akan
tetapi pada keadaan tertentu seluruh kata sebaiknya ditulis bila
1. pembicara mempunyai problem yang serius dengan bahasa;
2. pembicara tidak pengalaman;
3. pembicara sering cemas berbicara di depan umum;
4. pembicara sering lupa.
POLA LOGIS PRESENTASI
Analisis Problem:
Pendahuluan
Situasi (atau problem) yang ada
Analisis problem atau alternatives
Rekomendasi atau pemecahan masalah
Penutup
Analisis Strategi:
Pendahuluan
Objektif, kebutuhan atau tujuan
Program atau strategi yang ditawarkan
Implementasi atau langkah perencanaan
Presentasi Penjualan:
Pendahuluan
Analisis kebutuhan
Deskripsi produk atau servis
Keuntungan pemakaian alat atau jasa
Penutup
Presentasi Proposal (atau umum)
Pendahuluan
Design
Instalasi
Biaya
Penutup
Presentasi Laporan (penelitian)
Pendahuluan
Hipotesis
Hasil penelitian
Analisis dan diskusi
Penutup
Laporan operasi
Pendahuluan
Latar Belakang (Background review of bibliografi)
Current performance (kinerja saat ini)
Future Projections (Projeksi masa mendatang)
Pembukaan dan Penutupan Presentasi
Pembukaan Presentasi:
1. Terima kasih pada yang hadir, dan khususnya pada orang yang penting atau orang
yang sangat menentukan;
2. Kemukakan bahwa pertemuan akan dimulai;
3. Kenalkan diri anda;
4. Katakan tujuan pertemuan tersebut, dan hasil yang diharapkan;
5. Biarkan jadwal waktu, misalnya 10 menit presentasi dan 15 menit diskusi serta
diteruskan dengan makan siang jika perlu;
6. Berikan prosedur secara detail (bila ada);
7. Bila ada pertanyaan, maka ucapkan terima kasih dan jawablah dengan cukup
bijaksana;
8. Bila pertanyaan premature, katakan bahwa pertanyaan itu belum akan dijawab
sekarang, tetapi akan dijawab nanti, pada saatnya.
Penutupan Presentasi:
1. Berikan secara ringkas kesimpulan yang dibicarakan;
2. Berikan secara ringkas kesimpulan dari diskusi apa-apa yang telah disepakati, dan
yang belum mencapai kesepakatan;
3. Berikan tindakan lanjutan, kapan bertemu lagi, siapa menjadi kotak person dan
langkah selanjutnya;
4. Ucapkan terima kasih pada seluruh peserta;
5. Umumkan bahwa pertemuan telah selesai, dan pertemuan cukup sukses (bila
memang sukses).
Etika Presentasi
1. Mengetahui subjek yang dibicarakan;
2. Memakai bahasa yang baik dan benar;
3. Memakai imaginasi, jangan mengeluarkan data sebanyak-banyaknya tanpa jelas
tujuannya;
4. Mengenal sumber materi yang diberikan (beritahukan sumber bila ada yang
bertanya);
5. Bila berbicara pada pendengar yang ahli akan masalah tersebut, siapkan sumber
secara hati-hati dan benar pada bidang itu;
6. Jangan memakai statistik yang menyesatkan;
7. Berikan bukti-bukti yang menyokong anda;
8. Jauhi generalisasi yang tak ada supportnya;
9. Jangan membuat proposal, atau menyetujui modifikasi, atau counter proposal
yang nantinya tak mungkin dikerjakan;
10. Jangan merembet kepada isu yang tak berhubungan selama presentasi. Anda
harus mengenal agenda secara baik.
Tips Sebelum Presentasi
1. Apakah presentsi sudah dibuat sederhana?
2. Apakah telah diketahui apa yang mereka inginkan dan apa yang anda berikan?
3. Apakah material telah tersusun rapi?
4. Apakah anda telah siapkan pembuka dan penutup kata dengan manis?
5. Apakah semua materi yang anda bawa relevan?
6. Apakah anda telah mengetahui pentingnya bagi para pendengar pembicaraan anda
hari ini?
7. Apakah anda telah menghilangkan semua repetisi atau pengulangan?
8. Apakah ruangan untuk presentasi telah disiapkan, dan alat bantu telah ada pada
tempatnya, dan bekerja dengan baik?.
Ketrampilan Presentasi
Presentasi yang efektif adalah kombinasi dari berbagai ketrampilan:
1. Ketrampilan merencanakan;
2. Ketrampilan mengorganisasi;
3. Ketrampilan menyampaikan;
4. Ketrampilan berakting;
1. Merencanakan presentasi
• Harus mengetahui dengan jelas tujuan presentasi;
• Analisis pendengar atau target pendengar;
• Mengerti kemampuan, tingkat sosial pendengar;
2. Kemampuan berorganisasi
• Kumpulkan data yang relevan dengan presentasi;
• Kumpulkan ide materi yang mensuport tujuan presentasi;
• Urutkan data dan materi dalam urutan yang tepat, dan jelas;
• Ajak dan usahakan pendengar memberikan perhatian pada presentasi kita.
3. Ketrampilan menyampaikan
• Bersikap relax dan tenang pada waktu presentasi;
• Percaya diri pada waktu presentasi;
• Latihan berkali-kali sebelum menyampaikan presentasi;
• Jangan gugup dan malu dihadapan berbagai macam pendengar.
4. Ketrampilan berakting
• Pergunakan gerak dan komunikasi non verbal (body language)
• Tatap mata para pendengar (eye contact);
• Sampaikan presentasi dengan efektif dan efisien, sesuai dengan waktu yang
diberikan;
• Pertanyaan, komentar serta respons pendengar diperhatikan dan diberikan
balasan yang wajar.
Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah saling tukar ide antara dua atau lebih individu,
dimana masing-masing sadar akan keberadaan orang lain. Jadi bicara di radio dan
televisi, adalah komunikasi nonpersonal.
Dengan demikian perlu ditekankan bahwa ada ide yang berbeda, ada dua atau
lebih individu yang sadar akan keberadaannya. Ada pembicara atau presentan, dan ada
pendengar atau listener. Ada proses pertukaran ide, yang efektif dan penuh arti.
Suatu target atau goal merupakan kunci dari presentasi yang efektif. Pembicara
harus mempunyai target tertentu untuk disampaikan sebagai pesan pada pendengar.
Target atau goal yang akan disampaikan dan target atau goal yang didapat haruslah
kurang lebih sama, baru dapat dikatakan komunikasi yang efektif terjadi.
Contoh: Seorang pembicara membicarakan tentang adanya komputer baru (target dan
tujuan menjual komputer), tetapi pendengar mengambil kesimpulan bahwa komputer
lama dapat diperbaharui dengan hanya mengubah beberapa bagian alat itu. (Pesan tidak
sampai, komunikasi tidak efektif).
Suatu pernyataan biasa, uang tanpa tujuan, tanpa maksud yang jelas akan diterima
oleh pendengar sebagai pesan tanpa arti. Pembicara yang tak jelas dengan tujuan
pembicaraan sama dengan pendengar-pendengar yang tak akan memutuskan apa-apa.
Sebaliknya pendengar yang aktif akan membantu si pembicara dengan cara
mendengarkan, menerima komunikasi. Bila target atau goal yang diberikan si pembicara
cukup kuat dan jelas, pendengar menyimak, menerima pesan, bertanya secara inteligen,
untuk menghindarkan salah paham atau menambah cara, dengan demikian telah terjadi
komunikasi yang efeltif.
Terjadinya komunikasi yang efektif bila pembicara dan pendengar saling
bertanggung jawab dalam hal pertukaran ide.
Analisa Pendengar
Dalam komunikasi kita harus menganalisa pendengar kita.
• Apakah ada diantara pendengar orang yang memutuskan?
• Apakah ada diantara pendengar, defacto bukan orang yang memutuskan akan
tetapi orang yang berpengaruh terhadap keputusan?
• Apakah mereka mau bertindak sekarang?
• Apakah diketahui pola pengambilan keputusan?
• Apakah yang diinginkan oleh mereka?
• Apakah kebutuhan mereka?
• Apakah mengetahui hal penting yang perlu dikemukakan sehingga mereka mau
menerima rekomendasi kita?
• Apakah yang diharapkan dari pendengar kita?
• Apakah mengetahui hal yang membuat pendengar berpaling?
• Apakah mengetahui hal yang mempengaruhi keputusan?
• Apakah pendengar konservatif atau inovatif?
• Apakah mengetahui sikap pendengar?
• Apakah mengetahui tingkat pendidikan, latarbelakang sosial dan latarbelakang
pekerjaan pendengar?
• Apakah diketahui kekuatan dan kelemahan pendengar?
• Apakah diketahui Opini siapa yang dipercaya (akademican, praktikus, dsb.)
• Apakah ada kebiasaan lokal atau prasangka yang perlu diperhatikan?
• Apakah ada ide, perasaan dan pengalaman yang sama dengan pendengar?
• Apakah ada faktor waktu yang tepat untuk presentasi saya?
• Apakah ada perkataan atau topik pembicaraan yang sebaiknya tidak dibicarakan?
Penilaian Presentasi 1 2 3 4
Pembukaan
Kontak Mata
Target pendengar
Mimik
Kontrol
Kunci-kunci utama
Volume suara
Penjelasan tujuan
Interaksi dengan pendengar
Kesimpulan
Daftar Pustaka
Adisoemarto Soenartono. Merintis Jalan Menuju Pembautan Karya Tulis. S.l.: s.n., 1996
Akhaidah, Sabarti; Arsjad, Maidar G; Ridwan, Sakun H. Pembinaan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996.
Iskandar, H. Y. Komunikasi Interpersonal. Jakarta: Graha Medicopharma
Communication, 1994
Brotowidjoyo, Mukayat D. Penulisan Karangan Ilmiah. Edisi kedua. Jakarta: Akademika
Presindo, 1993
Lembaga Penelitian dan Pengembangan Bina Nusantara. Penulisan Karya Ilmiah.
Jakarta: LPPBN, 1998
Lembaga Penelitian dan Pengembangan Bina Nusantara. Review Bahasa Indonesia.
Jakarta: LPPBN, 1998
Lumintaintang, Yayah B. Mugnisjah. Teknis Penulisan Laporan Ilmiah. Makalah
disampaikan pada Penataran Penyuntingan Majalah Ilmiah, Yogyakarta, 9 – 12
Desember 1996, kerja sama antara PDII – LIPI, Menristek, Dikti, Ikapindo, dan
UII.
Rifai, Mien A. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah
Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1995
Sudarno. Terampil Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT Hikmat Syahid Indah, 1996
Tambunan, Kamariah; Muhartoyo. Cara Menyusun Sari Karangan: Buku Panduan.
Jakarta: Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah – LIPI, 1995
geovisit();